FIRST LOVE (1 of 3 shoots)
cast? Choi Minho, Choi Sulli.
Sekian dan terimakasih.
HAPPY READING!!
Sekian dan terimakasih.
HAPPY READING!!
**
Cinta pertama tidak selalu ada pada pacar pertama. Pacar pertama bukan berarti cinta pertama. Cinta pertama memang terkesan jauh lebih bermakna.
Choi Minho. Seorang mahasiswa di sebuah Universitas Negeri Kedokteran di korea yang tinggal bersantai menunggu kelulusan. Minho merupakan tipikal orang yang cenderung pendiam, calm, dan cool. Selain wajahnya yang tampan juga ia sangat pintar. Kepintarannya itu membuatnya tak pernah kehilangan 'penggemar'.
"Annyeong Minho" sapa seorang yeoja ketika berpapasan dengan Minho di taman Universitas. Minho hanya menanggapinya dengan tersenyum ramah. Dengan langkah cepat ia berjalan menghampiri segerombolan pemuda yang tengah bersenda gurau di depan gedung Universitas, tapi Minho berhenti ketika mendapati seorang gadis sedang terisak di bangku yang terletak di sudut taman. Sepertinya ia tahu siapa orang yang sedang menangis. Dengan langkah seribu ia menghampiri gadis itu.
"Ssul?" Minho tersenyum melihat gadis cantik itu tengah bercucuran air mata.
"Annyeong Minho" sapa seorang yeoja ketika berpapasan dengan Minho di taman Universitas. Minho hanya menanggapinya dengan tersenyum ramah. Dengan langkah cepat ia berjalan menghampiri segerombolan pemuda yang tengah bersenda gurau di depan gedung Universitas, tapi Minho berhenti ketika mendapati seorang gadis sedang terisak di bangku yang terletak di sudut taman. Sepertinya ia tahu siapa orang yang sedang menangis. Dengan langkah seribu ia menghampiri gadis itu.
"Ssul?" Minho tersenyum melihat gadis cantik itu tengah bercucuran air mata.
Choi Sulli. Gadis cantik yang hebat dan bercita-cita tinggi. Semangat, ceria, tidak mudah menyerah dan calon pekerja keras. Gadis yang sudah lama Minho kagumi karena sifatnya yang mampu membuat jempol-jempolnya berdiri.
"Kenapa menangis, hm?" Minho duduk di samping Sulli. Sejak tadi matanya tak berpaling dari wajah Sulli yang memerah. Sulli tak menjawab, kepalanya menggeleng keras, berusaha berpaling dari pandangan Minho. Tapi kemudian air matanya kembali mengalir deras, membuatnya tak sadar dengan cepatnya dia memeluk laki-laki yang dia hindari tatapan matanya.
Dengan tenang Minho mengelus rambut panjang Sulli, "Menangislah, selama itu bisa membuatmu tenang"
"Minho.. He broke...he broke me up" pelukan Sulli semakin erat, membuat Minho sedikit kesulitan bernafas. Sehalus mungkin Minho melepaskan pelukan Sulli. Kedua tangannya mencengkram bahu Sulli yang berguncang, matanya menatap prihatin gadis dihadapannya. Sementara Sulli menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, tak hentinya menangis.
"Tatap aku, Ssul!" perintah Minho, tapi Sulli tetap menangis. Sekali lagi Minho berbicara, namun kali ini terdengar lebih tegas.
"Tatap aku, Sulli-ah!" dengan terpaksa Sulli pun menatap Minho. Minho tersenyum sebelum akhirnya kembali berbicara.
"I know..I know it hurts the most. It isn't easy. Never! Tidak ada pertemuan yang abadi. Jika kita tidak bisa bahagia, biarkanlah orang yang kita cintai bahagia. Suatu saat, jika memang orang itu adalah jodohmu, dia akan kembali menjadi milikmu"
Sulli menggeleng, kini air matanya telah surut.
"Bukan itu.. Sejujurnya aku bahagia kami putus, dia terlalu kasar"
"You.....don't love him?"
"No, I don't"
"Jadi. Mengapa kau menangis?"
"Sebelum dia memutuskanku. Dia menamparku sangat keras. Kau lihat wajahku merah, bukan? Dan aku sama sekali tidak tahu alasannya" Sulli kembali menangis. Minho tersenyum,
"Mungkin Tuhan mempertemukan kita dengan orang yang salah, sebelum akhirnya kita dipertemukan dengan orang yang tepat. Laki-laki masih banyak di luar sana. Sekarang hapus air matamu. Setahuku Sulli adalah gadis yang ceria, cerewet, pantang menyerah dan-"
"Sudah. Cukup Minho. Tidak perlu berlebihan"
"Wae? Kalimat tadi bukan dibuat-buat. Itu murni dari hati "
Sulli terkekeh mendengar ucapan Minho yang terkesan 'gombal'
"Ada yang salah?" tanya Minho heran.
Sulli menggeleng, "Um aniya"
"Baguslah. Rupanya nona cantik ini sudah membaik. So, Super Hero harus pergi. Banyak urusan menunggu"
"Hahaha. Baiklah Super Hero. Kau boleh pergi. Gomawo"
"Okay" Minho menyeringai sebelum akhirnya pergi.
"Kenapa menangis, hm?" Minho duduk di samping Sulli. Sejak tadi matanya tak berpaling dari wajah Sulli yang memerah. Sulli tak menjawab, kepalanya menggeleng keras, berusaha berpaling dari pandangan Minho. Tapi kemudian air matanya kembali mengalir deras, membuatnya tak sadar dengan cepatnya dia memeluk laki-laki yang dia hindari tatapan matanya.
Dengan tenang Minho mengelus rambut panjang Sulli, "Menangislah, selama itu bisa membuatmu tenang"
"Minho.. He broke...he broke me up" pelukan Sulli semakin erat, membuat Minho sedikit kesulitan bernafas. Sehalus mungkin Minho melepaskan pelukan Sulli. Kedua tangannya mencengkram bahu Sulli yang berguncang, matanya menatap prihatin gadis dihadapannya. Sementara Sulli menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, tak hentinya menangis.
"Tatap aku, Ssul!" perintah Minho, tapi Sulli tetap menangis. Sekali lagi Minho berbicara, namun kali ini terdengar lebih tegas.
"Tatap aku, Sulli-ah!" dengan terpaksa Sulli pun menatap Minho. Minho tersenyum sebelum akhirnya kembali berbicara.
"I know..I know it hurts the most. It isn't easy. Never! Tidak ada pertemuan yang abadi. Jika kita tidak bisa bahagia, biarkanlah orang yang kita cintai bahagia. Suatu saat, jika memang orang itu adalah jodohmu, dia akan kembali menjadi milikmu"
Sulli menggeleng, kini air matanya telah surut.
"Bukan itu.. Sejujurnya aku bahagia kami putus, dia terlalu kasar"
"You.....don't love him?"
"No, I don't"
"Jadi. Mengapa kau menangis?"
"Sebelum dia memutuskanku. Dia menamparku sangat keras. Kau lihat wajahku merah, bukan? Dan aku sama sekali tidak tahu alasannya" Sulli kembali menangis. Minho tersenyum,
"Mungkin Tuhan mempertemukan kita dengan orang yang salah, sebelum akhirnya kita dipertemukan dengan orang yang tepat. Laki-laki masih banyak di luar sana. Sekarang hapus air matamu. Setahuku Sulli adalah gadis yang ceria, cerewet, pantang menyerah dan-"
"Sudah. Cukup Minho. Tidak perlu berlebihan"
"Wae? Kalimat tadi bukan dibuat-buat. Itu murni dari hati "
Sulli terkekeh mendengar ucapan Minho yang terkesan 'gombal'
"Ada yang salah?" tanya Minho heran.
Sulli menggeleng, "Um aniya"
"Baguslah. Rupanya nona cantik ini sudah membaik. So, Super Hero harus pergi. Banyak urusan menunggu"
"Hahaha. Baiklah Super Hero. Kau boleh pergi. Gomawo"
"Okay" Minho menyeringai sebelum akhirnya pergi.
***
Bulan depan pengumuman kelulusan. Perasaan tegang sama sekali tak menghantui Minho, itu karena Sulli yang selalu memberinya semangat. Malam ini, tepat di malam Minggu Minho mengajak Sulli untuk pergi ke taman Universitas. Mungkin hal bersejarah akan terjadi disana xD
Bulan telah menampakkan sinarnya. Begitupun bintang yang mulai bermunculan. Kedua insan berduduk santai diatas rumput yang tidak jelas warnanya di malam hari. Mereka terlihat bahagia. Apa yang terjadi? Entahlah
"Minho-ah.."
"Hm?"
"Sepertinya bulan dan bintang berjodoh"
Minho tersenyum lembut. Matanya masih memandangi bulan dan bintang yang semakin terang.
"Mereka indah. Begitu pun cinta"
Sulli menatap Minho bertanya-tanya. Minho tersenyum semu, melirik Sulli yang tengah memperhatikannya.
"Cinta adalah keindahan. Cinta mengangkat kita dimana kita berada. Dan yang kita butuhkan adalah cinta" sambung Minho.
"Apa yang kau pikirkan tentang .... first love?"
"Mudah saja. Itu dimana hati kita benar-benar merasakan cinta, sayang, bahagia, bukan hanya dengan kata 'I love you' tapi itu tentang perasaan"
"Umm Minho. Bagaimana kalau ... pacar pertama?"
Minho menatap Sulli, alisnya bertaut.
"Kau masih bertanya tentang yang satu itu?"
"Maksudku siapa pacar pertamamu?"
"Eobseo"
"Jinjjayo?"
"Yap"
"Bohong!"
"Aniyo"
"Arraseo. Emm cinta pertama?"
"Mwo?" Minho menatap Sulli datar. Tapi tatapan itu berubah menjadi serius ketika Sulli memperjelas pertanyaannya.
"Siapa cinta pertamamu?"
Tanpa berpikir panjang Minho menjawab "Kau"
Shock. Satu kata itu yang bisa di ungkapkan untuk menggambarkan bagaimana perasaan Sulli saat ini.
"Aku?"
"Ne. Kau. Choi Sulli"
"Tap..tapi waeyo?"
"Cinta bisa di artikan sebagai rasa dimana kita bisa sangat nyaman bersama orang lain. Dan cinta itu datangnya spontan tidak memakai proses, yang memakai proses itu sayang. Tapi kurasa aku tak perlu proses untuk menyayangimu. Karena sejak pertama bertemu, entah kenapa rasa sayang itu telah tumbuh" jelas Minho panjang lebar. Sulli hanya bisa diam tak mampu berkata apa-apa. Speechless.
"Minho-ah.. Mengapa kau begitu berani mengungkapkannya?" tanya Sulli lirih.
Lagi-lagi Minho tersenyum. "Jika kau mencintai seseorang, kau harus mengatakannya begitu ada kesempatan. Atau kau tidak akan pernah mengatakannya sama sekali. Karena kesempatan tidak datang dua kali, kan?"
"Haha kamu terlalu berimajinasi menjadi pacarku, Minho-ah" tertawa tapi dipaksakan, mungkin itu kesan saat Sulli tertawa. Minho mengangkat bahunya, "Tidak semua imajinasi itu hanya khayalan, semua bisa jadi kenyataan"
Speechless. Lagi lagi dan lagi Minho membuat Sulli terdiam. Berusaha menyangkal, tapi Minho selalu bisa membuatnya kehabisan kata-kata.
"Tapi Minho.. Satu hal. Aku pikir kau tidak benar-benar sayang kepadaku. Kau hanya kagum. Seperti yang kau katakan. Aku gadis ceria, tidak patah semangat, dan-"
"Itu berbeda, Ssul. Aku menyayangimu, bukan sebatas kagum. So. Will you be my girlfriend? Choi Sulli?"
"Aku-"
"Kau ingin option dalam bentuk huruf atau angka?"
"Minho-"
"Dalam bentuk huruf seperti ini. A=yes. B=C. C=A"
"Tapi Minho-"
"Dalam bentuk angka? Okay ini jarang sekali dan memang sangat langka. 1(yes). 2-1=1. 3-2=1"
"Choi Minho!!!!" Sulli menatap Minho geram.
"Mian. Umm. Jadi? Kau pilih yang mana?" Minho menyeringai. Sulli memutar bola matanya, mengatur nafas dan bicara. "Arraseo, YES!"
Speechless. Kali ini Minho dibuat Sulli speechless.
"Minho-ah.."
"Hm?"
"Sepertinya bulan dan bintang berjodoh"
Minho tersenyum lembut. Matanya masih memandangi bulan dan bintang yang semakin terang.
"Mereka indah. Begitu pun cinta"
Sulli menatap Minho bertanya-tanya. Minho tersenyum semu, melirik Sulli yang tengah memperhatikannya.
"Cinta adalah keindahan. Cinta mengangkat kita dimana kita berada. Dan yang kita butuhkan adalah cinta" sambung Minho.
"Apa yang kau pikirkan tentang .... first love?"
"Mudah saja. Itu dimana hati kita benar-benar merasakan cinta, sayang, bahagia, bukan hanya dengan kata 'I love you' tapi itu tentang perasaan"
"Umm Minho. Bagaimana kalau ... pacar pertama?"
Minho menatap Sulli, alisnya bertaut.
"Kau masih bertanya tentang yang satu itu?"
"Maksudku siapa pacar pertamamu?"
"Eobseo"
"Jinjjayo?"
"Yap"
"Bohong!"
"Aniyo"
"Arraseo. Emm cinta pertama?"
"Mwo?" Minho menatap Sulli datar. Tapi tatapan itu berubah menjadi serius ketika Sulli memperjelas pertanyaannya.
"Siapa cinta pertamamu?"
Tanpa berpikir panjang Minho menjawab "Kau"
Shock. Satu kata itu yang bisa di ungkapkan untuk menggambarkan bagaimana perasaan Sulli saat ini.
"Aku?"
"Ne. Kau. Choi Sulli"
"Tap..tapi waeyo?"
"Cinta bisa di artikan sebagai rasa dimana kita bisa sangat nyaman bersama orang lain. Dan cinta itu datangnya spontan tidak memakai proses, yang memakai proses itu sayang. Tapi kurasa aku tak perlu proses untuk menyayangimu. Karena sejak pertama bertemu, entah kenapa rasa sayang itu telah tumbuh" jelas Minho panjang lebar. Sulli hanya bisa diam tak mampu berkata apa-apa. Speechless.
"Minho-ah.. Mengapa kau begitu berani mengungkapkannya?" tanya Sulli lirih.
Lagi-lagi Minho tersenyum. "Jika kau mencintai seseorang, kau harus mengatakannya begitu ada kesempatan. Atau kau tidak akan pernah mengatakannya sama sekali. Karena kesempatan tidak datang dua kali, kan?"
"Haha kamu terlalu berimajinasi menjadi pacarku, Minho-ah" tertawa tapi dipaksakan, mungkin itu kesan saat Sulli tertawa. Minho mengangkat bahunya, "Tidak semua imajinasi itu hanya khayalan, semua bisa jadi kenyataan"
Speechless. Lagi lagi dan lagi Minho membuat Sulli terdiam. Berusaha menyangkal, tapi Minho selalu bisa membuatnya kehabisan kata-kata.
"Tapi Minho.. Satu hal. Aku pikir kau tidak benar-benar sayang kepadaku. Kau hanya kagum. Seperti yang kau katakan. Aku gadis ceria, tidak patah semangat, dan-"
"Itu berbeda, Ssul. Aku menyayangimu, bukan sebatas kagum. So. Will you be my girlfriend? Choi Sulli?"
"Aku-"
"Kau ingin option dalam bentuk huruf atau angka?"
"Minho-"
"Dalam bentuk huruf seperti ini. A=yes. B=C. C=A"
"Tapi Minho-"
"Dalam bentuk angka? Okay ini jarang sekali dan memang sangat langka. 1(yes). 2-1=1. 3-2=1"
"Choi Minho!!!!" Sulli menatap Minho geram.
"Mian. Umm. Jadi? Kau pilih yang mana?" Minho menyeringai. Sulli memutar bola matanya, mengatur nafas dan bicara. "Arraseo, YES!"
Speechless. Kali ini Minho dibuat Sulli speechless.
***
NEXT? Comment dolooooo Mian typo(s), bad words Nunu hanya manusia biasa, jari Nunu gak punya mata ._. kalo punya berarti harus di lestarikan, harus masuk rekor MURI juga.
Mian efek udah malem jadi ngomongnya ngelantur
Mian efek udah malem jadi ngomongnya ngelantur
NO SILENT READERS, OKAY!!!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar