FIRST LOVE (2 of 3 Shots)
Rate: 13
Gak usah banyak basa-basi deh ya. HAPPY READING!!!
Mian typo(s) berkeliaran dimana-mana, bad words juga tolong dimaafkan
HAPPY READING again!!!
Mian typo(s) berkeliaran dimana-mana, bad words juga tolong dimaafkan
HAPPY READING again!!!
**
Satu bulan kemudian..
-Sulli Point of View-
Hari ini adalah hari kelulusan Minho. Tidak hanya itu, hari ini juga tepat satu bulan hubunganku dan Minho oppa. What a great day!
Setelah acara selesai, Minho oppa memintaku menunggunya tepat di tempat saat ia menyatakan cintanya yaitu taman, dimana lagi?
Setelah acara selesai, Minho oppa memintaku menunggunya tepat di tempat saat ia menyatakan cintanya yaitu taman, dimana lagi?
Aku duduk di rumput yang warnanya lebih terlihat sangat jelas di siang hari, warna hijau. Berbeda dengan malam itu, warnanya tidak terlihat jelas, walaupun aku tahu rumput pasti berwarna hijau
Sambil menunggu Minho oppa datang aku memperhatikan orang-orang di Universitas yang sepertinya em maksudku terlihat bahagia. Sebagian besar mereka berdampingan dengan pacar masing-masing.
Ahh. Rasanya aku pun tak kalah bahagia dari mereka. Karena sekarang aku telah memiliki Minho oppa. Namja tampan, pintar, romantis, perhatian. Orang yang sejak dulu aku sukai secara diam-diam.
Terimakasih, Tuhan. Kau telah mempertemukan aku dengan dengan cinta pertamaku. Walaupun setelah ini aku tidak akan lagi melihatnya di Universitas ini. Tempat pertama kali kami bertemu. Tempat dimana perasaan itu muncul. Perasaan cinta, perasaan sayang.
Sambil menunggu Minho oppa datang aku memperhatikan orang-orang di Universitas yang sepertinya em maksudku terlihat bahagia. Sebagian besar mereka berdampingan dengan pacar masing-masing.
Ahh. Rasanya aku pun tak kalah bahagia dari mereka. Karena sekarang aku telah memiliki Minho oppa. Namja tampan, pintar, romantis, perhatian. Orang yang sejak dulu aku sukai secara diam-diam.
Terimakasih, Tuhan. Kau telah mempertemukan aku dengan dengan cinta pertamaku. Walaupun setelah ini aku tidak akan lagi melihatnya di Universitas ini. Tempat pertama kali kami bertemu. Tempat dimana perasaan itu muncul. Perasaan cinta, perasaan sayang.
***
Lima belas menit berlalu. Minho akhirnya datang. Tapi... Sedikit perasaan kecewa muncul ketika melihat Minho datang dengan seorang gadis. Cantik? Sangat cantik! Tapi cara berpakaiannya aku kurang suka, terlalu sexy.
"Annyeong" sapa Louis ketika ia berdiri tepat di hadapanku. Aku tersenyum manis lalu memeluknya. "Congratulation oppa" bisikku. Minho balas memelukku? Tidak! Bukan itu yang ia lakukan, tapi ia melepaskanku dengan cepatnya. Bingung. Ada apa dengannya? Apa yang salah?
"Oppa.."
"Mian, Sulli-ah. Emm.." MInho melirik yeoja yang tadi datang bersamanya. Tangannya merangkul gadis itu. Panas. Hatiku panas. Ingin sekali aku berteriak. Apa-apaan ini? Minho oppa melepas pelukanku? Lalu merangkul gadis itu? Siapa dia?
"Kenalkan, ini Ha Jung, pacarku" kata Minho yang kontan membuatku kaget.
"Pacar?"
"Ya. Pacar"
"Kau bercanda? Pacarmu...aku, oppa!" mataku mulai berkaca-kaca.
Berharap Minho hanya sedang mengerjaiku.
"Mian, Sulli. Mungkin kau benar. Aku tak benar-benar mencintaimu, aku tak benar-benar manyayangimu. Aku .... hanya mengagumimu karena kau gadis yang ceria, pantang menyerah, cerewet. Hanya itu, tak lebih"
Kalimat sepanjang itu.. Seketika membuatku hancur. Hatiku hancur menjadi kepingan-kepingan kecil yang mungkin tidak bisa disatukan kembali.
Sakit. Bahkan lebih sakit dibandingkan dengan jarimu teriris pisau yang sangat tajam.
-Author Point of View-
"Mulai detik ini. Kita tidak ada hubungan apa-apa lagi. It's over!"
Sulli mencengkram tangan Minho, "Tapi oppa-"
"Kau yeoja yang cantik, baik. Kau pasti akan mendapatkan namja yang jauh lebih baik dariku, namja yang jauh lebih tampan dan pastinya mencintaimu dengan tulus" ucap Minho kemudian berlalu meninggalkan Sulli sendiri dengan air mata yang mulai mengalir.
Sulli mencengkram tangan Minho, "Tapi oppa-"
"Kau yeoja yang cantik, baik. Kau pasti akan mendapatkan namja yang jauh lebih baik dariku, namja yang jauh lebih tampan dan pastinya mencintaimu dengan tulus" ucap Minho kemudian berlalu meninggalkan Sulli sendiri dengan air mata yang mulai mengalir.
Frustasi. Mungkin itu yang sedang dirasakan Sulli saat ini. Tanpa tahu arah tujuan, dia berlari tak peduli seberapa banyak orang yang memperhatiakannya. Bahkan seorang dosen memanggilnya pun tak dia herani.
'Cinta itu bisa diartikan sebagai rasa dimana kita bisa sangat nyaman bersama orang lain'
'Aku menyayangimu bukan sebatas kagum'
'Cita itu datangnya spontan tidak memakai proses, yang memakai proses itu sayang'
Bayang-bayang ucapannya, kata-kata itu, semakin dia sakit semakin terdengar jelas. Sulli berlari semakin cepat, tangannya menutup kedua telinga. Tapi Minho tek berhenti bicara.
'Will you be my girlfriend? Choi Sulli?'
'Kurasa aku tak perlu proses untuk menyayangimu, karena sejak pertama bertemu entah kenapa rasa sayang itu telah tumbuh'
"AAARRRGHH!! BULLSHIT!! FUCK YOU! Kau bilang menyayangiku? Mwoya? Buktinya? Bullshit! You're a liar! I hate you!!!" jerit Sulli.
***
Selama dua jam nonstop Sulli tak hentinya menangis. Semua barang yang pernah Minho berikan dia lempar ke sembarang tempat. Sementara itu diluar sana orang tuanya memanggil-manggil Sulli, khawatir. Karena tak seperti biasanya Sulli seperti itu.
"Aku baik-baik saja. Aku hanya ingin .. sendiri" ucap Sulli akhirnya setelah cukup lama diam tak bersuara.
Merenung. Sendiri. Ketenangan. Itu yang benar-benar dia butuhkan sekarang. Sebisa mungkin dia tak mengingat-ngingat apapun tentang Minho. Bisa. Akhirnya bisa. Tapi seakan tak mengijinkan, suara Louis mulai terdengar lagi.
'Jika kita tidak bisa berbahagia, biarkanlah orang yang kita cintai bahagia'
Sulli terdiam sejenak. Mencoba berpikir, merenung, menelaah setiap kata yang Minho ucapkan. Setelah itu dia tersenyum, tersenyum lemah.
"Membiarkanmu bahagia dengan orang lain? Itu yang kau mau? Baiklah. Jika itu memang membuatmu bahagia. Aku akan merelakanmu..." gumam Sulli. Matanya terpejam, air matanya kembali keluar.
"Aku coba." desisnya.
"Membiarkanmu bahagia dengan orang lain? Itu yang kau mau? Baiklah. Jika itu memang membuatmu bahagia. Aku akan merelakanmu..." gumam Sulli. Matanya terpejam, air matanya kembali keluar.
"Aku coba." desisnya.
***
Hari demi hari berlalu tanpa sosok Minho. Tapi bayang-bayangnya masih saja menghantui Sulli. Kini Sulli telah mendapatkan pengganti Minho. Lee Taemin. Namja tampan yang sangat tulus menyayanginya. Mungkin rasa sayangnya itu melebihi rasa sayang Minho yang pada kenyataannya palsu. Hmm bisa jadi xD
Tapi meskipun begitu, bagi Sulli Minho tetaplah cinta pertamanya. Yang mampu membuat hatinya merasa sedih, senang, kecewa. Minho lah yang mengajarkannya banyak tentang cinta, pengorbanan, dan hidup. Minho juga lah yang dengan mudahnya menghancurkannya. Asin, asam, manis, pahit. Itulah cinta pertama.
"Choi Minho" gumamnya.
"Mwo?" tanya seseorang disebelahnya -Taemin.-
"Hah? Ak..aku bicara apa tadi oppa?"
"Choi Min..apa aku tak ingat" ucap Taemin, pandangannya fokus memperhatikan jalan walau sesekali matanya melirik yeoja di sampingnya.
"Oh.."
"Nugu?"
"Mwo?"
"Tadi siapa?"
"Dia...bukan siapa-siapa" dusta Sulli.
Taemin menghentikan mobilnya sejenak, matanya kini beralih pada Sulli.
"Aku harap kau berkata jujur. Aku tak ingin ada masalah untuk hubungan kita"
Sulli tersenyum dan mengangguk, "Trust me"
"I trust you"
"Jangan banyak bicara. Rumah Sakit masih jauh"
"Haha mianhae"
"Hmm. Ayo cepat jalan!"
"Baiklah nona cantik"
"Mwo?" tanya seseorang disebelahnya -Taemin.-
"Hah? Ak..aku bicara apa tadi oppa?"
"Choi Min..apa aku tak ingat" ucap Taemin, pandangannya fokus memperhatikan jalan walau sesekali matanya melirik yeoja di sampingnya.
"Oh.."
"Nugu?"
"Mwo?"
"Tadi siapa?"
"Dia...bukan siapa-siapa" dusta Sulli.
Taemin menghentikan mobilnya sejenak, matanya kini beralih pada Sulli.
"Aku harap kau berkata jujur. Aku tak ingin ada masalah untuk hubungan kita"
Sulli tersenyum dan mengangguk, "Trust me"
"I trust you"
"Jangan banyak bicara. Rumah Sakit masih jauh"
"Haha mianhae"
"Hmm. Ayo cepat jalan!"
"Baiklah nona cantik"
DEG.Tiba-tiba jantungnya terasa berhenti berdetak, hatinya perih seperti tersayat pisau ketika Taemin berkata 'nona cantik'.
Bayangan Minho kembali berkeliaran di pikirannya. Tapi Sulli bersikeras menepisnya.
Bayangan Minho kembali berkeliaran di pikirannya. Tapi Sulli bersikeras menepisnya.
"Kita sudah sampai, nona" ujar Taemin membuyarkan lamunan Sulli. Sulli tersenyum simpul lalu keluar dari mobil.
"Kamar eommamu masih jauh?" tanya Sulli sementara kakinya menyusuri koridor Rumah Sakit.
"Tinggal beberapa langkah lagi"
"Oh. Memangnya eommamu sakit apa?"
"Typus"
"Oh.."
"Dari tadi 'oh'. Tidak ada yang lain?"
"Mian"
"Hmm. Itu, kamar nomor 239" Taemin menunjuk sebuah ruangan bernomor 239, pintunya tidak tertutup.
"Itu kamar eommaku" sambungnya. Sulli hanya mengangguk. Tinggal beberapa langkah lagi menuju kamar 239 itu, tiba-tiba Sulli melihat seseorang yang sedang duduk di ruang tunggu, membuat Sulli menghentikan langkahnya.
"Emm. Kau masuk saja dulu, aku akan menyusul"
Alis Taemin bertaut. Entah heran, bingung, atau bahkan curiga tapi akhirnya ia berkata "Arraseo" Taemin mengangguk kemudian masuk ke kamar 239 itu. Setelah Taemin masuk, dengan setengah berlari cepat-cepat Sulli bergegas menuju ruang tunggu. Sulli berdiri tepat di depan orang yang membuatnya datang kesana yang kini sedang duduk di bangku putih.
"Minho.." ucapnya. Orang yang dia panggil Minho menengok kemudian berdiri. "Ssul.."
Tanpa basa-basi Sulli memeluk Minho. Matanya kembali berlinang. "Bogoshippo, Jeongmal bogoshippo."
Minho yang merasakan hal yang sama balas memeluk Sulli. Kedua sudut bibirnya terangkat. "Nado bogoshippo" ucap Minho akhirnya. Pelukan erat itu akhirnya melonggar. Mereka kemudian duduk di bangku putih panjang.
Minho menatap Sulli bahagia. Ibu jarinya bergerak menuju kedua pipi mulus Sulli, menghapus sisa air mata yang ada disana.
"Kau akan terlihat semakin cantik tanpa air mata" kata Minho mengahasilkan semburat merah di pipi Sulli.
"Kemana saja kau? Tiga bulan kau tak memberiku kabar!" protes Sulli.
"Mian"
"Hanya maaf?"
"Terus?"
"Oh my...Lupakan! Hmm. Ha Jung..bagaimana hubungan kalian?"
"Em..eh..baik, ya, baik "
"Baguslah.." Sulli menatap Minho dengan tatapan menilai, alisnya bertaut, "Kau... Terlihat lebih kurus"
"Hah? Emm.. Aku.. Hanya terlalu capek. Ya mm"
"Kau yakin?"
"Ya"
"Okay. By the way, sedang apa kau disini?"
Minho tidak menjawab. Ia terlihat seperti sedang kebingungan, mencari-cari jawaban.
"Minho?"
"Nde?"
"Kau belum menjawab pertanyaanku"
"Oh..Hm. Aku disini-"
"Minho Dokter. Dia bekerja disini" sela seseorang yang tiba-tiba datang. "Benar kan, Minho?"
"Hm.. N..ne. Ha Jung benar." ujar Minho gelagapan.
Sulli mengangguk mengerti disusul dengan senyum yang tidak yakin itu asli. "I'm happy for you. Mimpimu menjadi seorang Dokter akhirnya terwujud"
Sulli beralih mentap Ha Jung. "Wish you two long last" Ha Jung hanya membalas dengan senyuman.
"Ku rasa aku harus pergi. Taemin sudah menungguku"
"Taemin? Nugu?" tanya Minho penasaran.
"Astaga aku lupa!" Sulli menepuk keningnya lalu tertawa, "Taemin namja chinguku, sudah dua bulan"
"Oh. Long last ya" ucap Minho.
"Gomawo. Aku harus pergi. Sampai bertemu lagi" Sulli pergi tanpa tersenyum. Mungkin dia kecewa harus memberitahukan bahwa dia telah menemukan seorang pengganti Minho. Begitu pun Minho, ia sangat kecewa ketika mengetahui Sulli telah menemukan penggantinya.
"Jika kita tidak bisa berbahagia, biarkanlah orang yang kita cintai bahagia. Ya. I try. Semoga kalian bahagia" gumam Minho, suaranya tercekat.
"Tinggal beberapa langkah lagi"
"Oh. Memangnya eommamu sakit apa?"
"Typus"
"Oh.."
"Dari tadi 'oh'. Tidak ada yang lain?"
"Mian"
"Hmm. Itu, kamar nomor 239" Taemin menunjuk sebuah ruangan bernomor 239, pintunya tidak tertutup.
"Itu kamar eommaku" sambungnya. Sulli hanya mengangguk. Tinggal beberapa langkah lagi menuju kamar 239 itu, tiba-tiba Sulli melihat seseorang yang sedang duduk di ruang tunggu, membuat Sulli menghentikan langkahnya.
"Emm. Kau masuk saja dulu, aku akan menyusul"
Alis Taemin bertaut. Entah heran, bingung, atau bahkan curiga tapi akhirnya ia berkata "Arraseo" Taemin mengangguk kemudian masuk ke kamar 239 itu. Setelah Taemin masuk, dengan setengah berlari cepat-cepat Sulli bergegas menuju ruang tunggu. Sulli berdiri tepat di depan orang yang membuatnya datang kesana yang kini sedang duduk di bangku putih.
"Minho.." ucapnya. Orang yang dia panggil Minho menengok kemudian berdiri. "Ssul.."
Tanpa basa-basi Sulli memeluk Minho. Matanya kembali berlinang. "Bogoshippo, Jeongmal bogoshippo."
Minho yang merasakan hal yang sama balas memeluk Sulli. Kedua sudut bibirnya terangkat. "Nado bogoshippo" ucap Minho akhirnya. Pelukan erat itu akhirnya melonggar. Mereka kemudian duduk di bangku putih panjang.
Minho menatap Sulli bahagia. Ibu jarinya bergerak menuju kedua pipi mulus Sulli, menghapus sisa air mata yang ada disana.
"Kau akan terlihat semakin cantik tanpa air mata" kata Minho mengahasilkan semburat merah di pipi Sulli.
"Kemana saja kau? Tiga bulan kau tak memberiku kabar!" protes Sulli.
"Mian"
"Hanya maaf?"
"Terus?"
"Oh my...Lupakan! Hmm. Ha Jung..bagaimana hubungan kalian?"
"Em..eh..baik, ya, baik "
"Baguslah.." Sulli menatap Minho dengan tatapan menilai, alisnya bertaut, "Kau... Terlihat lebih kurus"
"Hah? Emm.. Aku.. Hanya terlalu capek. Ya mm"
"Kau yakin?"
"Ya"
"Okay. By the way, sedang apa kau disini?"
Minho tidak menjawab. Ia terlihat seperti sedang kebingungan, mencari-cari jawaban.
"Minho?"
"Nde?"
"Kau belum menjawab pertanyaanku"
"Oh..Hm. Aku disini-"
"Minho Dokter. Dia bekerja disini" sela seseorang yang tiba-tiba datang. "Benar kan, Minho?"
"Hm.. N..ne. Ha Jung benar." ujar Minho gelagapan.
Sulli mengangguk mengerti disusul dengan senyum yang tidak yakin itu asli. "I'm happy for you. Mimpimu menjadi seorang Dokter akhirnya terwujud"
Sulli beralih mentap Ha Jung. "Wish you two long last" Ha Jung hanya membalas dengan senyuman.
"Ku rasa aku harus pergi. Taemin sudah menungguku"
"Taemin? Nugu?" tanya Minho penasaran.
"Astaga aku lupa!" Sulli menepuk keningnya lalu tertawa, "Taemin namja chinguku, sudah dua bulan"
"Oh. Long last ya" ucap Minho.
"Gomawo. Aku harus pergi. Sampai bertemu lagi" Sulli pergi tanpa tersenyum. Mungkin dia kecewa harus memberitahukan bahwa dia telah menemukan seorang pengganti Minho. Begitu pun Minho, ia sangat kecewa ketika mengetahui Sulli telah menemukan penggantinya.
"Jika kita tidak bisa berbahagia, biarkanlah orang yang kita cintai bahagia. Ya. I try. Semoga kalian bahagia" gumam Minho, suaranya tercekat.
**To be continue aja deh ya
NO SILENT READERS, OKAY!!
NO SILENT READERS, OKAY!!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar