Hai :)
selamat datang diblog ku ^_^
Perkenalkan namaku Nur Herda. Nama lengkapku Herda Maulida Aulia. Aku lahir di Bekasi,13 juli 1999
aku biasa dipanggil dengan sebutan Nunu, tapi ada juga yang manggil aku dengan sebutan Nung eda -_-
kalo mau lebih kenal dengan ku hubungui aku bisa lewat:
Facebook : Nur Herda
Twitter : @nvnuhrd13
Instagram : herdaofficial13
Sabtu, 26 April 2014
My Whole Life as Mrs. Choi
Title : My Whole Life as Mrs. Choi (OneShoot)
Author : @HerdaOfficial or Nur Herda (Choi Ha Jung)
Enjoy and Happy Reading~
Sulli berada di rumah sakit, seorang diri berusaha berjuang melawan sakitnya raga-nya yang kini tengah mengandung anak pertamanya dan Minho. Tapi saat ini Minho tidak ada disampingnya. Malam sebelumnya, Sulli masih berada di rumah, tengah merajut tiap-tiap helai benang wool sampai terbentuk sebuah topi kecil, untuk cikal bakal calon anak pertama mereka. Tiba-tiba telepon di rumahnya berdering. Sulli yang sudah hampir setahun lama tidak bertemu dengan Minho pun berharap jika telepon yang berdering itu adalah telepon dari Minho"Well hello, sweetheart... It's been a long time!" Yeah, Sulli mengenali suara itu, suara dari orang yang dia cintai. Suara dari orang yang demi apa pun Sulli pertaruhkan untuk dia, termasuk fakta bahwa Sulli rela untuk menikah secara private, hanya Minho dan SHINee member yang tahu dan menghadiri pernikahan merekaPengucapan janji setia pun dilakukan secara sederhana, namun tak akan pernah Sulli lupakan dalam hidupnya. Sulli memakai gaun pengantin putih sederhana, dengan ornamen renda yang tidak terlalu meriah tetapi terlihat indah. Sedangkan Minho mengenakan tuxedo hitam dengan sematan bunga mawar putih, bunga yang Sulli suka.
Sebulan setelah pernikahan Mereka, saat Mereka melakukan dinner romantis, Minho memberikan kabar buruk sekaligus bahagia. Kabar buruknya adalah, Minho harus mengikuti tour bersama SHINee. Kabar baiknya? Mungkin tour tersebut merupakan langkah awal karir SHINee. Sulli memeluk Minho, ikut merasakan bahagia yang terpancar di wajah Minho. Padahal kamu tahu, malam itu juga kamu ingin mengabari Minho soal kehamilan anak pertama mereka.
Tapi karena melihat raut wajah Minho yang tiba-tiba cemas karena takut meninggalkan Sulli, Sulli hanya tersenyum tipis dan tetap menyimpan rahasia itu.Kini, tepat sembilan bulan semenjak Minho mengikuti tour bersama grupnya SHINee. Usia kandungan pun sudah memasuk usia matang.
Hal terakhir yang Sulli inginkan adalah memberikan kehidupan bagi anak pertama mereka dengan kehadiran sang ayah. Tepat pagi hari, Sulli merasakan sakit yang luar biasa, saat itulah Sulli yakin... hampir tiba saatnya. Dengan langkah kecil, Sulli memegangi telepon genggamnya, menekan dengan gelisah nomor telepon Minho."Hallo? Is that you, sweetheart?" suara yang Sulli rindukan. Sambil menahan sakit, kamu tersenyum kecil dan mengatakan, "Oppa, kurasa aku akan melahirkan..."Tidak ada jawaban dari Minho.
Seolah sunyi menerpa di seberang sana. Kau pun mulai cemas, takut membayangkan ekspresi wajah Minho."Kau dimana sekarang? Apakah ada seseorang bersamamu?""Aku di rumah, oppa. Sendiri""Alright, aku akan menyuruh Victoria noona atau Luna kesana untuk menemanimu. Pastikan keadaanmu baik-baik saja! Kalau mereka sudah sampai dan kau merasa akan terjadi sesuatu, langsung hubungi rumah sakit! Kau mengerti?""Aku mengerti""Hei, chagiya..""Ya, Oppa?""I love you.. Big time"Saat itu juga air mata Sulli berlinang. Ia mengingat kembali masa-masa perjuangannya mendapat hati Minho. Berawal dari senyuman hangat saat ia mengikuti acara meet n greet SHINee beberapa waktu lalu. Saat itu Minho melihat pembawaanmu yang tenang dan susah baginya untuk mengakui bahwa ia mencintaimu pada pandangan pertama..."Don't cry please, babe.. I'll be at your side. Always and forever. I promise!""Aku tahu oppa, aku percaya akan hal itu. Dan ya, aku juga sangat mencintaimu.."Setelah menelepon Minho, Sulli kembali merasa tenang. Sesaat setelah menelepon, Victoria dan Luna mengetuk pintu rumahnya. Disitulah, semuanya menjadi putih.
*beberapa hari selanjutnya*
Dokter mengatakan pada Sulli bahwa kandungannya baik-baik saja. Namun stamina-nya yang berkurang dan bawaan tekanan akibat mengurus kehamilannya seorang diri, membuatnya kelelahan sehingga tak sadarkan diri. Dokter juga mengatakan bahwa proses persalinan dapat dilakukan setelah ia siap, karena usia kandungannya sudah dikatakan cukup matang untuk proses persalinan.Tak lama setelah Sulli sadar, dengan kondisinya yang belum cukup pulih, tiba-tiba ia merasakan sebuah dorongan kuat dan menyakitkan. Kelahiran anak pertama mereka. Dokter dan para suster pun dengan sigap menyiapkan segala kebutuhan untuk proses persalinan. Salah satu suster sudah siap dengan sarung tangannya, serta masker pelindungnya. Para suster pun menyemangatinya dengan gelisah, terus menerus menyuruhnya mendorong tekanan yang terasa menyakitkan. Tiba-tiba Sulli merasakan genggaman hangat di tangan kanannya, disusul dengan belaian lembut dikepalanya. Genggaman tangan yang sangat ia rindukan."C'mon, sweetheart! You can make it!" suara yang Sulli rindukan pun berhembus bergema pelan di telinganya. Sulli seolah mendapatkan kekuatan untuk melawan rasa sakitnya. Hingga akhirnya ia mendengar tangisan kecil seorang bayi laki-laki. Tangisan kecil bagai malaikat yang mampu membuatnya tersenyum di tengah rasa sakit. Minho, dengan lembutnya membelai kepala malaikat kecilnya yang baru saja lahir ke dunia ini. Dengan tatapan puas, Sulli memejamkan matanya. Berharap semua ini tidak cepat terjadi, karena yang ingin Sulli rasakan adalah sebuah proses..
*Beberapa tahun kemudian*
Sulli memasak pancake, dengan sirup mapple yang tidak begitu manis. Di depannya tengah duduk anak lelaki berusia tiga tahun, bermain dengan warna-warni crayon bersama sang ayah tercinta. Sejenak Sulli memperhatikan, matanya yang berwarna coklat diturunkan oleh ayahanda tercinta dan rambut agak coklat mengkilap yang diturunkan darinya. Minho, suami-nya yang sekarang tengah bermain dengan anak pertama mereka tiba-tiba menghampiri Sulli, memeluknya dari belakang dan mencium tengkuknya lembut..."My life is completely right with you. You're my happiness, my sunshine.. I love you, sweetheart..."Suaranya yang lembut dan maskulin membuat Sulli tidak bergeming, sehingga Minho membalikan badannya, lalu mencium keningnya pelan dan kembali memeluknya hangat.
"I love you..."
"I love you too"
The End ~~~~
Mian typo(s), bad words dan gaje
Enjoy and Happy Reading~
Sulli berada di rumah sakit, seorang diri berusaha berjuang melawan sakitnya raga-nya yang kini tengah mengandung anak pertamanya dan Minho. Tapi saat ini Minho tidak ada disampingnya. Malam sebelumnya, Sulli masih berada di rumah, tengah merajut tiap-tiap helai benang wool sampai terbentuk sebuah topi kecil, untuk cikal bakal calon anak pertama mereka. Tiba-tiba telepon di rumahnya berdering. Sulli yang sudah hampir setahun lama tidak bertemu dengan Minho pun berharap jika telepon yang berdering itu adalah telepon dari Minho"Well hello, sweetheart... It's been a long time!" Yeah, Sulli mengenali suara itu, suara dari orang yang dia cintai. Suara dari orang yang demi apa pun Sulli pertaruhkan untuk dia, termasuk fakta bahwa Sulli rela untuk menikah secara private, hanya Minho dan SHINee member yang tahu dan menghadiri pernikahan merekaPengucapan janji setia pun dilakukan secara sederhana, namun tak akan pernah Sulli lupakan dalam hidupnya. Sulli memakai gaun pengantin putih sederhana, dengan ornamen renda yang tidak terlalu meriah tetapi terlihat indah. Sedangkan Minho mengenakan tuxedo hitam dengan sematan bunga mawar putih, bunga yang Sulli suka.
Sebulan setelah pernikahan Mereka, saat Mereka melakukan dinner romantis, Minho memberikan kabar buruk sekaligus bahagia. Kabar buruknya adalah, Minho harus mengikuti tour bersama SHINee. Kabar baiknya? Mungkin tour tersebut merupakan langkah awal karir SHINee. Sulli memeluk Minho, ikut merasakan bahagia yang terpancar di wajah Minho. Padahal kamu tahu, malam itu juga kamu ingin mengabari Minho soal kehamilan anak pertama mereka.
Tapi karena melihat raut wajah Minho yang tiba-tiba cemas karena takut meninggalkan Sulli, Sulli hanya tersenyum tipis dan tetap menyimpan rahasia itu.Kini, tepat sembilan bulan semenjak Minho mengikuti tour bersama grupnya SHINee. Usia kandungan pun sudah memasuk usia matang.
Hal terakhir yang Sulli inginkan adalah memberikan kehidupan bagi anak pertama mereka dengan kehadiran sang ayah. Tepat pagi hari, Sulli merasakan sakit yang luar biasa, saat itulah Sulli yakin... hampir tiba saatnya. Dengan langkah kecil, Sulli memegangi telepon genggamnya, menekan dengan gelisah nomor telepon Minho."Hallo? Is that you, sweetheart?" suara yang Sulli rindukan. Sambil menahan sakit, kamu tersenyum kecil dan mengatakan, "Oppa, kurasa aku akan melahirkan..."Tidak ada jawaban dari Minho.
Seolah sunyi menerpa di seberang sana. Kau pun mulai cemas, takut membayangkan ekspresi wajah Minho."Kau dimana sekarang? Apakah ada seseorang bersamamu?""Aku di rumah, oppa. Sendiri""Alright, aku akan menyuruh Victoria noona atau Luna kesana untuk menemanimu. Pastikan keadaanmu baik-baik saja! Kalau mereka sudah sampai dan kau merasa akan terjadi sesuatu, langsung hubungi rumah sakit! Kau mengerti?""Aku mengerti""Hei, chagiya..""Ya, Oppa?""I love you.. Big time"Saat itu juga air mata Sulli berlinang. Ia mengingat kembali masa-masa perjuangannya mendapat hati Minho. Berawal dari senyuman hangat saat ia mengikuti acara meet n greet SHINee beberapa waktu lalu. Saat itu Minho melihat pembawaanmu yang tenang dan susah baginya untuk mengakui bahwa ia mencintaimu pada pandangan pertama..."Don't cry please, babe.. I'll be at your side. Always and forever. I promise!""Aku tahu oppa, aku percaya akan hal itu. Dan ya, aku juga sangat mencintaimu.."Setelah menelepon Minho, Sulli kembali merasa tenang. Sesaat setelah menelepon, Victoria dan Luna mengetuk pintu rumahnya. Disitulah, semuanya menjadi putih.
*beberapa hari selanjutnya*
Dokter mengatakan pada Sulli bahwa kandungannya baik-baik saja. Namun stamina-nya yang berkurang dan bawaan tekanan akibat mengurus kehamilannya seorang diri, membuatnya kelelahan sehingga tak sadarkan diri. Dokter juga mengatakan bahwa proses persalinan dapat dilakukan setelah ia siap, karena usia kandungannya sudah dikatakan cukup matang untuk proses persalinan.Tak lama setelah Sulli sadar, dengan kondisinya yang belum cukup pulih, tiba-tiba ia merasakan sebuah dorongan kuat dan menyakitkan. Kelahiran anak pertama mereka. Dokter dan para suster pun dengan sigap menyiapkan segala kebutuhan untuk proses persalinan. Salah satu suster sudah siap dengan sarung tangannya, serta masker pelindungnya. Para suster pun menyemangatinya dengan gelisah, terus menerus menyuruhnya mendorong tekanan yang terasa menyakitkan. Tiba-tiba Sulli merasakan genggaman hangat di tangan kanannya, disusul dengan belaian lembut dikepalanya. Genggaman tangan yang sangat ia rindukan."C'mon, sweetheart! You can make it!" suara yang Sulli rindukan pun berhembus bergema pelan di telinganya. Sulli seolah mendapatkan kekuatan untuk melawan rasa sakitnya. Hingga akhirnya ia mendengar tangisan kecil seorang bayi laki-laki. Tangisan kecil bagai malaikat yang mampu membuatnya tersenyum di tengah rasa sakit. Minho, dengan lembutnya membelai kepala malaikat kecilnya yang baru saja lahir ke dunia ini. Dengan tatapan puas, Sulli memejamkan matanya. Berharap semua ini tidak cepat terjadi, karena yang ingin Sulli rasakan adalah sebuah proses..
*Beberapa tahun kemudian*
Sulli memasak pancake, dengan sirup mapple yang tidak begitu manis. Di depannya tengah duduk anak lelaki berusia tiga tahun, bermain dengan warna-warni crayon bersama sang ayah tercinta. Sejenak Sulli memperhatikan, matanya yang berwarna coklat diturunkan oleh ayahanda tercinta dan rambut agak coklat mengkilap yang diturunkan darinya. Minho, suami-nya yang sekarang tengah bermain dengan anak pertama mereka tiba-tiba menghampiri Sulli, memeluknya dari belakang dan mencium tengkuknya lembut..."My life is completely right with you. You're my happiness, my sunshine.. I love you, sweetheart..."Suaranya yang lembut dan maskulin membuat Sulli tidak bergeming, sehingga Minho membalikan badannya, lalu mencium keningnya pelan dan kembali memeluknya hangat.
"I love you..."
"I love you too"
The End ~~~~
Mian typo(s), bad words dan gaje
The Last Promise
-OneShoot-
The Last Promise
Hey namaku Choi Sulli, aku punya seseorang yang sangat special dalam hidupku, dialah Choi Minho, yah itu sangat tampan bukan? Pagi ini dia datang menemuiku, duduk di sampingku dan tersenyum menatapku. Aku benar-benar tak berdaya melihat tatapan itu, tatapan yang begitu hangat, penuh harap dan selalu membuatku bisa memaafkannya. Aku sadar, aku sangat mencintainya, aku tidak ingin kehilangan dia, meski dia sering menyakiti hatiku dan membuatku menangis. Tidak hanya itu, akupun kehilangan sahabatku, aku tidak peduli dengan perkataan orang lain tentang aku. Aku akan tetap memaafkan Minho oppa, meskipun dia sering menghianati cintaku.
“Aku gak tau harus bilang apa lagi, buat kesekian kalinya oppa selingkuh! Oppa udah ngancurin kepercayaan aku!”
Aku tidak sanggup menatap matanya lagi, air mataku jatuh begitu deras menghujani wajahku. Aku tak berdaya, begitu lemas dan dia memelukku erat.
“Miabhae chagi, mianhae! Aku janji gak akan nyakitin kamu lagi. Aku janji chagiya. Aku sayang kamu! Uljima, kamu jangan nangis lagi!”
Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi selain memaafkannya, aku tidak ingin kehilangan Minho, aku sangat mencintainya.
Malam ini Minho oppa menjemputku, kami akan kencan dan makan malam. Aku sengaja mengenakan gaun merah muda pemberian Miho oppa dan berdandan secantik mungkin. Kutemui Minho oppa di ruang tamu, Dia tersenyum, memandangiku dari atas hingga bawah.
“Chagi, neomu neomu yeppeoda.”
“Gomawo oppa. Kita jadi dinner kan?”
“Ne tentu, tapi chagi, malam ini aku gak bawa mobil dan mobil kamu masih di bengkel, kamu gak keberatan kita naik Taksi?”
“Aniyo oppa, yaudah kita panggil Taksi aja, kajja.”
Dengan penuh semangat aku menggandeng lengan Minho oppa. Ini benar-benar menyenangkan, disepanjang perjalanan Minho oppa menggenggam erat tanganku, aku bersandar dibahu Minho oppa menikmati perjalanan kami dan melupakan semua kesalahan yang telah Minho oppa perbuat padaku.
Kami berhenti disebuah kedai di pinggir jalan. Aku sedikit ragu, apa Minho oppa benar-benar mengajakku makan ditempat seperti ini. Aku tahu betul sifat Minho oppa, dia tidak mungkin mau makan di kedai kecil di pinggir jalan seperti ini.
“Waeyo oppa? Mienya gak enak?”
“Aniyo, mienya enak, Cuma panas aja. Kamu gak apa-apa kan makan ditempat kaya gini chagi?”
“Ani oppa. Aku sering kok makan ditempat kaya gini. Mienya enak loh. oppa kunyah pelan-pelan dan nikmati rasanya dalam-dalam.”
Aku yakin, Minho oppa gak pernah makan ditempat kaya gini. Tapi sepertinya Minho oppa mulai menikmati makanannya, dia bercerita panjang lebar tentang teman-temannya, keluarganya dan banyak hal. Dua tahun bersama Minho oppa bukan waktu yang singkat, dan tidak mudah untuk mempertahankan hubungan kami selama ini. Minho oppa sering menghianati aku, bukan satu atau dua kali Minho oppa berselingkuh, tapi dia tetap kembali padaku. Dan aku selalu memaafkannya, itu yang membuatku kehilangan sahabat-sahabatku. Mereka benar, aku yeoja phabo yang mau dipermainkan oleh namja seperti dia. Meskipun kini mereka menjauhiku, aku tetap menganggap mereka sahabatku.
Selesai makan Minho oppa nampak kebingungan, dia mencari-cari sesuatu dari saku celananya.
“Apa dompetku ketinggalan di Taksi?”
“Yakin di saku gak ada oppa?”
“Eopseo. Gimana dong?”
“Yaudah, pake uang aku aja ne. Setiap jalan selalu oppayang traktir aku, sekarang giliran aku yang traktir oppa. Ok!”
“Arraseo, Gomawo chagi, mian.”
Saat di kampus, aku bertemu dengan Krystal dan Jiyoung. Aku sangat merindukan kedua sahabatku itu, hampir empat bulan kami tidak bersama, hingga saat ini mereka tetap sahabat terbaikku. Saat berpapasan, Jiyoung menarik tanganku.
“Ssul, kamu sakit? Kok wajahmu pucet sih?”
Jiyoung bicara padaku, ini seperti mimpi, Jiyoung masih peduli padaku.
“Aniya, Cuma capek aja kok Jiyoung. Kalian apa kabar?”
“Jelas capek lah, punya pacar diselingkuhin terus! Lagian mau aja sih dimainin sama namja playboy kayak Minho oppa! Jangan-jangan Minho oppa gak sayang sama kamu? Ups, keceplosan.”
“Kumane Krystal! Kumane rago!! Kasian Sulli! Kamu kenapa sih Krystal bahas itu mulu? Sulli kan gak salah.” “Udah deh Jiyoung kamu diem aja! Harusnya kamu ngaca Sulli! Kenapa kamu diselingkuhin terus!”
Kystal benar, jangan-jangan Minho oppa gak sayang sama aku, Minho oppa gak cinta sama aku, itu yang buat Minho oppa selalu menghianati aku. Selama ini aku gak pernah berfikir ke arah sana, mungkin karena aku terlalu mencintai Minho oppa dan takut kehilangan dia. Semalaman aku memikirkan hal itu, aku ragu terhadap perasaan Minho oppa padaku. Jika benar Minho oppa tidak mencintaiku, aku benar-benar tidak bisa memaafkannya lagi.
Meskipun tidak ada jadwal kuliah, aku tetap pergi ke kampus untuk mengerjakan tugas kelompok. Setelah larut malam dan kampus sudah hampir sepi aku pun pulang. Saat sampai ke tempat parkir, aku melihat Minho oppa bersama seorang yeoja. Aku tidak bisa melihat wajah yeoja itu karena dia membelakangiku. Mungkin Minho oppa menghianatiku lagi. Kali ini aku tidak bisa memaafkannya. Mereka masuk ke dalam mobil, aku bisa melihat yeoja itu, sangat jelas, dia sahabatku, Krystal….
Sungguh, aku benar-benar tidak bisa memaafkan Minho oppa. Akan ku pastikan, apa Minho oppa akan jujur padaku atau dia akan membohongiku, ku ambil ponselku dan menghubungi Minho oppa.
“Yeoboseyo, oppa bisa jemput aku sekarang?”
“Mianhae chagi, aku gak bisa kalau sekarang. Aku sedang mengantar noonaku, kamu gak bawa mobil chagi?”
“Emang noona oppa mau kemana?”
“Mau ke…, itu mau belanja. Sekarang kamu dimana?”
“Oppa! Sejak kapan oppa mau nganter noonamu belanja? Apa sejak Krystal jadi noonamu oppa? Hah?!!”
“Ssul, kamu ngomong apa chagiya? Kamu bilang sekarang lagi dimana?”
“Aku liat sendiri oppa pergi sama Krystal! Oppa gak usah bohongin aku! Kali ini aku gak bisa maafin oppa! kenapa oppa harus selingkuh sama Krystal? Sahabat aku? Waeyo oppa??!! Aku benci oppa! Mulai sekarang aku gak mau liat oppa lagi! Kita Putus oppa!”
“Sulli-ah, ini gak…….”
Kubuang ponselku, kulaju mobilku dengan kecepatan tertinggi, air mataku terus berjatuhan, hatiku sangat sakit, aku harus menerima kenyataan bahwa Minho oppa tidak mencintaiku, dia berselingkuh dengan sahabatku.
Beberapa hari setelah kejadian itu aku tidak masuk kuliah, aku hanya bisa mengurung diri di kamar dan menangis. Beruntung Ibu dan Ayah mengerti perasaanku, mereka memberikan semangat padaku dan mendukung aku untuk melupakan Minho oppa, meskipun aku tau itu tak mudah. Setiap hari Minho oppa datang ke rumah dan meminta maaf, bahkan Minho oppa sempat semalaman berada di depan gerbang rumahku, tapi aku tidak menemuinya. Aku berjanji tidak akan memafkan dia, dan janjiku takan kuingkari, tidak seperti janji-janji Minho oppa yang tidak akan menghianatiku yang selalu dia ingkari.
Hari ini kuputuskan untuk pergi kuliah, aku berharap tidak bertemu dengan Minho oppa. Tapi seusai kuliah, tiba-tiba Minho oppa ada dihadapanku.
“Mianhae Ssul! Aku dan Krystal gak ada hubungan apa-apa. Aku Cuma nanyain tentang kamu ke dia Ssul!
“Kita udah putus Oppa! Jangan ganggu aku lagi! Sekarang oppa bebas! Oppa mau punya pacar tujuh juga bukan urusan aku!”
“Tapi Ssul, Sulli-ah…..”
Aku berlari meninggalkan Minho oppa, meskipun aku sangat mencintainya, aku harus bisa melupakannya. Minho oppa terus mengejarku dan mengucapkan kata maaf. Tapi aku tak pedulikan dia, aku semakin cepat berlari dan menyebrangi jalan raya. Ketika sampai di seberang jalan, terdengar suara tabrakan, dan…………
“Oppaaaaaaa…..”
Minho oppa tertabrak mobil saat mengejarku, dia terpental sangat jauh. Mawar merah yang ia bawa berserakan bercampur dengan merahnya darah yang keluar dari kepalanya.
“Oppa, Mianhae!”
“Sulli-ah. Mi-an mi-anh-ae a-ku jan-ji jan-ji ga sa-ki-tin ka-mu la-gi sa-ra-ng-han da-go a-ku ma-u ni-kah sa-ma kam……”
“Oppaaaaaaaa……”
Minho oppa meninggal saat itu juga, ini semua salahku, jika aku mau memaafkan Minho oppa semua ini takan terjadi. Sekarang aku harus menerima kenyataan ini, kenyataan yang sangat pahit yang tidak aku inginkan, yang tidak mungkin bisa aku lupakan. Minho oppa menghembuskan nafas terakhirnya dipelukanku, disaat terakhir dia berjanji takkan menyakitiku lagi, disaat dia mengatakan mencintaiku dan ingin menikah denganku. Dia mengatakan semuanya disaat meregang nyawa ketika menahan sakit dari benturan keras, ketika darahnya mengalir begitu deras membasahi aspal jalanan. Rasanya ingin sekali menemani Minho oppa didalam tanah sana, menemaninya dalam kegelapan, kesunyian, kedinginan, aku tidak bisa berhenti menangis, menyesali perbuatanku, aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri.
Satu minggu setelah Minho oppa meninggal, aku masih menangis, membayangkan semua kenangan indah bersamanya yang tidak akan pernah terulang lagi. Senyumannya, tatapannya, takan pernah bisa kulupakan.
“Aegy, ini ada titipan dari Choi ajhumma . Kamu jangan melamun terus dong! Kamu harus bangkit! Biarkan Minho tenang di alam sana. eomma yakin kamu bisa!”
“Ini salah aku eomma. Aku butuh waktu.”
Kubuka bingkisan dari Choi ajhumma eommanya Minho oppa, didalamnya ada kotak kecil berwarna merah, mawar merah yang telah layu dan amplop berwarna merah. Didalam kotak merah itu terdapat sepasang cincin. Aku pun menangis kembali dan membuka amplop itu.
“Dear Sulli,
Chagiya, mianhae, aku janji gak akan nyakitin kamu, aku sangat mencintai kamu, semua yang udah aku lakuin itu buat ngeyakinin kalo cuma kamu yang terbaik buat aku, cuma kamu yang aku cinta. Aku harap, kamu mau nemenin aku sampai aku menutup mata, sampai aku menghembuskan nafas terakhirku. Dan cincin ini akan menjadi cincin pernikahan kita. Saranghandago <3, aku tidak ingin berpisah denganmu Ssul.”
Saranghae
Minho
Air mataku mengalir semakin deras dari setiap sudutnya, kupakai cincin pemberian Minho oppa, aku berlari menghampiri eomma dan memeluknya.
“Eomma, aku udah menikah dengan Minho oppa!”
“Sulli-ah, waeyo aegy?”
“Igo!” Kutunjukan cincin pemberian Minho oppa dijari manisku.
“Ssul, kamu butuh waktu aegy. Kamu harus kuat!”
“Sekarang aku mau cerai sama Minho oppa eomma!” kulepas cincin pemberian Minho oppa dan memberikannya pada eomma.
“Aku titip cincin pernikahanku dengan Minho oppa eomma! eomma harus menjaganya dengan baik!” Eomma memeluku erat dan kami menangis bersama-sama.
-The End-
“Aku gak tau harus bilang apa lagi, buat kesekian kalinya oppa selingkuh! Oppa udah ngancurin kepercayaan aku!”
Aku tidak sanggup menatap matanya lagi, air mataku jatuh begitu deras menghujani wajahku. Aku tak berdaya, begitu lemas dan dia memelukku erat.
“Miabhae chagi, mianhae! Aku janji gak akan nyakitin kamu lagi. Aku janji chagiya. Aku sayang kamu! Uljima, kamu jangan nangis lagi!”
Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi selain memaafkannya, aku tidak ingin kehilangan Minho, aku sangat mencintainya.
Malam ini Minho oppa menjemputku, kami akan kencan dan makan malam. Aku sengaja mengenakan gaun merah muda pemberian Miho oppa dan berdandan secantik mungkin. Kutemui Minho oppa di ruang tamu, Dia tersenyum, memandangiku dari atas hingga bawah.
“Chagi, neomu neomu yeppeoda.”
“Gomawo oppa. Kita jadi dinner kan?”
“Ne tentu, tapi chagi, malam ini aku gak bawa mobil dan mobil kamu masih di bengkel, kamu gak keberatan kita naik Taksi?”
“Aniyo oppa, yaudah kita panggil Taksi aja, kajja.”
Dengan penuh semangat aku menggandeng lengan Minho oppa. Ini benar-benar menyenangkan, disepanjang perjalanan Minho oppa menggenggam erat tanganku, aku bersandar dibahu Minho oppa menikmati perjalanan kami dan melupakan semua kesalahan yang telah Minho oppa perbuat padaku.
Kami berhenti disebuah kedai di pinggir jalan. Aku sedikit ragu, apa Minho oppa benar-benar mengajakku makan ditempat seperti ini. Aku tahu betul sifat Minho oppa, dia tidak mungkin mau makan di kedai kecil di pinggir jalan seperti ini.
“Waeyo oppa? Mienya gak enak?”
“Aniyo, mienya enak, Cuma panas aja. Kamu gak apa-apa kan makan ditempat kaya gini chagi?”
“Ani oppa. Aku sering kok makan ditempat kaya gini. Mienya enak loh. oppa kunyah pelan-pelan dan nikmati rasanya dalam-dalam.”
Aku yakin, Minho oppa gak pernah makan ditempat kaya gini. Tapi sepertinya Minho oppa mulai menikmati makanannya, dia bercerita panjang lebar tentang teman-temannya, keluarganya dan banyak hal. Dua tahun bersama Minho oppa bukan waktu yang singkat, dan tidak mudah untuk mempertahankan hubungan kami selama ini. Minho oppa sering menghianati aku, bukan satu atau dua kali Minho oppa berselingkuh, tapi dia tetap kembali padaku. Dan aku selalu memaafkannya, itu yang membuatku kehilangan sahabat-sahabatku. Mereka benar, aku yeoja phabo yang mau dipermainkan oleh namja seperti dia. Meskipun kini mereka menjauhiku, aku tetap menganggap mereka sahabatku.
Selesai makan Minho oppa nampak kebingungan, dia mencari-cari sesuatu dari saku celananya.
“Apa dompetku ketinggalan di Taksi?”
“Yakin di saku gak ada oppa?”
“Eopseo. Gimana dong?”
“Yaudah, pake uang aku aja ne. Setiap jalan selalu oppayang traktir aku, sekarang giliran aku yang traktir oppa. Ok!”
“Arraseo, Gomawo chagi, mian.”
Saat di kampus, aku bertemu dengan Krystal dan Jiyoung. Aku sangat merindukan kedua sahabatku itu, hampir empat bulan kami tidak bersama, hingga saat ini mereka tetap sahabat terbaikku. Saat berpapasan, Jiyoung menarik tanganku.
“Ssul, kamu sakit? Kok wajahmu pucet sih?”
Jiyoung bicara padaku, ini seperti mimpi, Jiyoung masih peduli padaku.
“Aniya, Cuma capek aja kok Jiyoung. Kalian apa kabar?”
“Jelas capek lah, punya pacar diselingkuhin terus! Lagian mau aja sih dimainin sama namja playboy kayak Minho oppa! Jangan-jangan Minho oppa gak sayang sama kamu? Ups, keceplosan.”
“Kumane Krystal! Kumane rago!! Kasian Sulli! Kamu kenapa sih Krystal bahas itu mulu? Sulli kan gak salah.” “Udah deh Jiyoung kamu diem aja! Harusnya kamu ngaca Sulli! Kenapa kamu diselingkuhin terus!”
Kystal benar, jangan-jangan Minho oppa gak sayang sama aku, Minho oppa gak cinta sama aku, itu yang buat Minho oppa selalu menghianati aku. Selama ini aku gak pernah berfikir ke arah sana, mungkin karena aku terlalu mencintai Minho oppa dan takut kehilangan dia. Semalaman aku memikirkan hal itu, aku ragu terhadap perasaan Minho oppa padaku. Jika benar Minho oppa tidak mencintaiku, aku benar-benar tidak bisa memaafkannya lagi.
Meskipun tidak ada jadwal kuliah, aku tetap pergi ke kampus untuk mengerjakan tugas kelompok. Setelah larut malam dan kampus sudah hampir sepi aku pun pulang. Saat sampai ke tempat parkir, aku melihat Minho oppa bersama seorang yeoja. Aku tidak bisa melihat wajah yeoja itu karena dia membelakangiku. Mungkin Minho oppa menghianatiku lagi. Kali ini aku tidak bisa memaafkannya. Mereka masuk ke dalam mobil, aku bisa melihat yeoja itu, sangat jelas, dia sahabatku, Krystal….
Sungguh, aku benar-benar tidak bisa memaafkan Minho oppa. Akan ku pastikan, apa Minho oppa akan jujur padaku atau dia akan membohongiku, ku ambil ponselku dan menghubungi Minho oppa.
“Yeoboseyo, oppa bisa jemput aku sekarang?”
“Mianhae chagi, aku gak bisa kalau sekarang. Aku sedang mengantar noonaku, kamu gak bawa mobil chagi?”
“Emang noona oppa mau kemana?”
“Mau ke…, itu mau belanja. Sekarang kamu dimana?”
“Oppa! Sejak kapan oppa mau nganter noonamu belanja? Apa sejak Krystal jadi noonamu oppa? Hah?!!”
“Ssul, kamu ngomong apa chagiya? Kamu bilang sekarang lagi dimana?”
“Aku liat sendiri oppa pergi sama Krystal! Oppa gak usah bohongin aku! Kali ini aku gak bisa maafin oppa! kenapa oppa harus selingkuh sama Krystal? Sahabat aku? Waeyo oppa??!! Aku benci oppa! Mulai sekarang aku gak mau liat oppa lagi! Kita Putus oppa!”
“Sulli-ah, ini gak…….”
Kubuang ponselku, kulaju mobilku dengan kecepatan tertinggi, air mataku terus berjatuhan, hatiku sangat sakit, aku harus menerima kenyataan bahwa Minho oppa tidak mencintaiku, dia berselingkuh dengan sahabatku.
Beberapa hari setelah kejadian itu aku tidak masuk kuliah, aku hanya bisa mengurung diri di kamar dan menangis. Beruntung Ibu dan Ayah mengerti perasaanku, mereka memberikan semangat padaku dan mendukung aku untuk melupakan Minho oppa, meskipun aku tau itu tak mudah. Setiap hari Minho oppa datang ke rumah dan meminta maaf, bahkan Minho oppa sempat semalaman berada di depan gerbang rumahku, tapi aku tidak menemuinya. Aku berjanji tidak akan memafkan dia, dan janjiku takan kuingkari, tidak seperti janji-janji Minho oppa yang tidak akan menghianatiku yang selalu dia ingkari.
Hari ini kuputuskan untuk pergi kuliah, aku berharap tidak bertemu dengan Minho oppa. Tapi seusai kuliah, tiba-tiba Minho oppa ada dihadapanku.
“Mianhae Ssul! Aku dan Krystal gak ada hubungan apa-apa. Aku Cuma nanyain tentang kamu ke dia Ssul!
“Kita udah putus Oppa! Jangan ganggu aku lagi! Sekarang oppa bebas! Oppa mau punya pacar tujuh juga bukan urusan aku!”
“Tapi Ssul, Sulli-ah…..”
Aku berlari meninggalkan Minho oppa, meskipun aku sangat mencintainya, aku harus bisa melupakannya. Minho oppa terus mengejarku dan mengucapkan kata maaf. Tapi aku tak pedulikan dia, aku semakin cepat berlari dan menyebrangi jalan raya. Ketika sampai di seberang jalan, terdengar suara tabrakan, dan…………
“Oppaaaaaaa…..”
Minho oppa tertabrak mobil saat mengejarku, dia terpental sangat jauh. Mawar merah yang ia bawa berserakan bercampur dengan merahnya darah yang keluar dari kepalanya.
“Oppa, Mianhae!”
“Sulli-ah. Mi-an mi-anh-ae a-ku jan-ji jan-ji ga sa-ki-tin ka-mu la-gi sa-ra-ng-han da-go a-ku ma-u ni-kah sa-ma kam……”
“Oppaaaaaaaa……”
Minho oppa meninggal saat itu juga, ini semua salahku, jika aku mau memaafkan Minho oppa semua ini takan terjadi. Sekarang aku harus menerima kenyataan ini, kenyataan yang sangat pahit yang tidak aku inginkan, yang tidak mungkin bisa aku lupakan. Minho oppa menghembuskan nafas terakhirnya dipelukanku, disaat terakhir dia berjanji takkan menyakitiku lagi, disaat dia mengatakan mencintaiku dan ingin menikah denganku. Dia mengatakan semuanya disaat meregang nyawa ketika menahan sakit dari benturan keras, ketika darahnya mengalir begitu deras membasahi aspal jalanan. Rasanya ingin sekali menemani Minho oppa didalam tanah sana, menemaninya dalam kegelapan, kesunyian, kedinginan, aku tidak bisa berhenti menangis, menyesali perbuatanku, aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri.
Satu minggu setelah Minho oppa meninggal, aku masih menangis, membayangkan semua kenangan indah bersamanya yang tidak akan pernah terulang lagi. Senyumannya, tatapannya, takan pernah bisa kulupakan.
“Aegy, ini ada titipan dari Choi ajhumma . Kamu jangan melamun terus dong! Kamu harus bangkit! Biarkan Minho tenang di alam sana. eomma yakin kamu bisa!”
“Ini salah aku eomma. Aku butuh waktu.”
Kubuka bingkisan dari Choi ajhumma eommanya Minho oppa, didalamnya ada kotak kecil berwarna merah, mawar merah yang telah layu dan amplop berwarna merah. Didalam kotak merah itu terdapat sepasang cincin. Aku pun menangis kembali dan membuka amplop itu.
“Dear Sulli,
Chagiya, mianhae, aku janji gak akan nyakitin kamu, aku sangat mencintai kamu, semua yang udah aku lakuin itu buat ngeyakinin kalo cuma kamu yang terbaik buat aku, cuma kamu yang aku cinta. Aku harap, kamu mau nemenin aku sampai aku menutup mata, sampai aku menghembuskan nafas terakhirku. Dan cincin ini akan menjadi cincin pernikahan kita. Saranghandago <3, aku tidak ingin berpisah denganmu Ssul.”
Saranghae
Minho
Air mataku mengalir semakin deras dari setiap sudutnya, kupakai cincin pemberian Minho oppa, aku berlari menghampiri eomma dan memeluknya.
“Eomma, aku udah menikah dengan Minho oppa!”
“Sulli-ah, waeyo aegy?”
“Igo!” Kutunjukan cincin pemberian Minho oppa dijari manisku.
“Ssul, kamu butuh waktu aegy. Kamu harus kuat!”
“Sekarang aku mau cerai sama Minho oppa eomma!” kulepas cincin pemberian Minho oppa dan memberikannya pada eomma.
“Aku titip cincin pernikahanku dengan Minho oppa eomma! eomma harus menjaganya dengan baik!” Eomma memeluku erat dan kami menangis bersama-sama.
-The End-
Lovely Baby Ssul
Title: Lovely Baby Ssul
Author: Nur Herda "Choi Ha Sun"
Main cast: Choi Sulli, Choi Minho
Support cast: Park Luna, Krystal Jung, Lee Taemin, Lee Jinki, Kim Jonghyun, Kim Kibum
Length: Oneshoot
Rating: General
Sulli POV
“Oppa, kau ini sebenarnya ada dimana sekarang? Aku sudah menunggumu satu jam disini.” Kataku sambil agak berteriak melalui Iphone ku.“Lihat saja dibelakangmu.” Jawab Minho. Aku menoleh kebelakang. Aku melihat Minho, sedang tersenyum kearahku diantara banyaknya pengunjung di salah satu mall ini.
Hari ini ia terlihat sangat keren. Hari ini ia mengenakan kaus putih polos model v-neck, kemeja denim warna biru, celana jeans hitam, dan sepatu converse warna putih favoritnya.Minho berlari kecil kearahku.“Mianhae chagi, lain kali tak akan kuulangi lagi” kata Minho sambil kemudian mencium keningku.Ya, inilah aku, Choi jin ri atau Sulli, pacar dari Choi minho, ya benar, Minho yang merupakan salah satu personel dari SHINee. Tidak. Aku tidak mencintainya karena ia terkenal. Aku mencintainya karena, yahh.. dia adalah MINHO.
“Ohhh, ayolah oppa, aku bosan dengan janji-janjimu yang jarang sekali kau tepati itu.” Gurau ku sambil memasang wajah cemberut.“Ohhh, ayolah chagi, mianhae. Aku tidak akan mengulanginya lagi. Aku janji” Katanya sambil tersenyum dan mencubiti pipiku.Aku tertawa, “Yayaya, baiklah”Minho meloncat kegirangan, bahkan ia tak memedulikan sekeliling yang mulai memerhatikan keberadaan kami. Yeoja-yeoja disekeliling kami mulai berbisik-bisik. Bahkan ada yang berteriak “Omo, itukan Minho SHINee.”“Sebaiknya kita cepat pergi dari sini.” Kata Minho sambil menarik tanganku dan berjalan cepat menuju lift.Ya memang sebaiknya begitu.
Minho POV
Kalau ditanya mengapa aku mencintainya.Jawabannya… karena dia adalah Choi jin ri, gadis termanis yang pernah kujumpai dalam hidupku. Ia selalu menjadi dirinya sendiri. Ia juga tidak melarangku untuk melakukan hal-hal yang kusukai, yahhh selama itu tidak melanggar batas dan aturan saja.
Saat ini kami sedang berdua, di dalam kamarnya.“Oppa ..” suara lembut yang kusukai terdengar dari samping kiriku.Aku segera menoleh. Mata kami saling bertemu. Tuhan… Aku suka matanya. Aku suka caranya menatapku. Aku suka caranya tersenyum saat menatapku. Aku suka segalanya darinya. Untuk saat ini, ia lah seluruh hidupku.“Oppa …” ulangnya.“Ada apa chagiya?” tanyaku.Wajah manisnya berubah menjadi lesu.“Aku…” ia tidak melanjutkan kata-katanya.Ini membuatku jadi semakin penasaran.“Yaa, ada apa?” kataku“Aku harus kembali. Ke Amerika.”Kembali? Ke Amerika?“Untuk apa?” tanyaku.“Masa kerja appaku disini sudah berakhir. Kami sekeluarga harus kembali ke negara kami.” Ucapnya lirih. Aku tahu ia menetap disini karena pekerjaan appanya. Tapi…Tidak bisa. Aku tidak sanggup hidup tanpa melihat senyumnya, tanpa menatap matanya, tanpa merasakan hangat pelukannya.Berpisah selama tour konser saja sudah membuat ku hampir gila karena merindukannya. Apalagi jika ia harus meninggalkanku ribuan mil jauhnya?“Tidah bisakah kau tinggal?”Ia menggeleng, lalu menjawab. “Aniya oppa, appaku tidak ingin aku tinggal jauh dari keluargaku.”“Kalau begitu, kita bisa menjalani Long Distance Relationship, aku bisa mengunjungimu suatu saat, atau kau yang mengunjungiku.” Usulku.Ia tersenyum, “Aku tidak sanggup menjalaninya, Oppa.”Air matanya mulai menetes.“Aniya chagi. Jangan menangis. Uljima.. Kalau memang itu yang terbaik, lakukanlah.” Kataku akhirnya, sambil meremas lembut jari-jari tangannya yang terasa dingin.
Author’s POV
Sulli sedang duduk di kursi ruang tunggu airport. Hari ini adalah hari keberangkatannya kembali Ke Amerika. Ia sudah berada di airport sejak dua jam yang lalu. Pesawat yang akan membawa ia dan keluarganya ke Amerika mengalami delay. Minho ikut mengantarnya ke airport. Bersama Taemin, Onew, Jonghyun, Key, Krystal, juga Luna.“Aku akan merindukanmu, Baby ssul.” Kata Krystal sambil memeluk Sulli.‘Baby Ssul’ begitu teman-temannya memanggilnya. Alasannya? Karena wajahnya manis seperti bayi katanya.Sejak tadi, Luna dan Krystal terus memeluk Sulli.Sulli ingin menangis, tapi sebisa mungkin ia berusaha menaha air matanya agar tidak tumpah.“Katakan saja padanya, Ssul. Mungkin itu akan membuat perasaanmu menjadi lebih tenang” tukas Luna, sambil terus memeluk Sulli.Sulli menoleh kearah Minho. Laki-laki itu sedang duduk termenung di kursinya.“Hmm.. bisa kalian lepaskan pelukan ini sebentar?” ujar Sulli pada Luna dan Krystal. Mereka bertiga saling berpandangan dan tersenyum satu sama lain. Luna dan Krystal melepaskan pelukannya.“Kau pasti bisa melakukannya, Baby ssul.” Ujar Krystal sambil menepuk pelan bahu Sulli.
Minho POV
Sekarang aku dan teman-teman yang lain sedang berada di airport. Mengantarkan ‘Our Lovely Baby Ssul’ yang akan meninggalkan Korea hari ini. Aku mengalihkan pandanganku dari gelas Styrofoam starbucks yang sedari tadi kugenggam kearah Sulli. Gadis itu sedang bangkit dari kursinya. Kulihat Krystal menepuk bahunya. Lalu Sulli berjalan kearahku.Dan kini, ia sudah berada di hadapanku.“Bisa kita bicara?” katanya lembut.Aku tersenyum. “Tentu.”Aku bangkit dari kursiku, lalu menitipkan gelas starbucks ku pada Key yang berada di sebelahku.Sulli membawaku agak menjauh dari teman-temanku .Ia tersenyum lesu. “Maafkan aku Oppa, kita harus mengakhiri hubungan ini. Aku sudah pernah bilang kan, aku tidak sanggup menjalani Long Distance Relationship? Lagipula, aku akan melanjutkan kuliah ku disana. Dan tidak tau kapan aku akan kembali kesini lagi.” Jelasnya.Tidak, Ssul. Bukan ini yang ingin kudengar di saat-saat seperti ini.“Aku… Aku tidak sanggup hidup tanpamu, Chagi.” Kataku lesu, sambil menggenggam kedua tangannya.“Tidak Oppa, ini hidup yang harus kita jalani saat ini.”Kami saling bertatapan lama. Ia berjinjit, lalu mendekatkan wajahnya ke wajahku, refleks, aku juga mendekatkan wajahku ke wajahnya, dan dalam sekejap, bibir kami sudah saling terpaut. Ciuman ini mungkin akan menjadi yang terakhir, atau… entahlah.Kami terus berpelukan dan berciuman hingga akhirnya suara pengumuman pesawat menuju Amerika akan segera berangkat.
Sulli tersenyum lagi.“Gomawo Oppa. Gomawo karena telah mencintaiku.” Katanya lirih.Ia berjalan menjauh, menuju tempat teman-teman kami yang sedari tadi menguping.“Kau melakukannya dengan baik, Ssul.” Kata Krystal pada Sulli.Sulli,Luna dan Krystal lalu berpelukan. Diikuti dengan Taemin, Onew, Key dan Jonghyun yang juga ikut berpelukan. Seperti Teletubbies.Sementara aku, tetap berdiri mematung di tempatku. Berusaha menata kepingan-kepingan hatiku yang kini hancur.Pengumuman pesawat yang akan segera take-off membuat mereka menghentikan pelukannya.Sulli tersenyum kearahku.“Selamat tinggal Oppa” katanya.Aniya ssul, jangan ucapkan selamat tinggal.
Author’s POV
Sulli terus menggoreskan pensilnya diatas buku sketsanya. Ini tahun ketiganya berada di Amerika, setelah 10 tahun tinggal dan menetap di Korea. Ia mulai terbiasa menjalani hidup tanpa Minho. Awalnya memang sangat sulit, tapi lama kelamaan, ia bisa, meskipun tidak sepenuhnya mampu.Angin sepoi-sepoi di taman kampusnya membuat helai-helai rambutnya berkibar.
Apa yang sebenarnya sejak tadi ia gambar?Ia tersadar saat seseorang datang.“Siapa itu?” tanya Amber, teman kampusnya.“Masa kau tidak tahu?” katanya sembari tersenyum simpul.“Itu…. Minho SHINee kan? Mantan kekasihmu?”Sulli mengangguk “Ne, kau benar.”“Kau sudah dengar beritanya?” tanya Amber. Sulli menoleh kearah Amber sambil menaikkan sebelah alisnya.“Berita? Berita yang mana?” Sulli balik bertanya.“Itu lohhh, dua hari yang lalu, Minho mengalami kecelakaan, parah sekali ya kecelakaannya, benar kan?”
Sulli POV
“Itu lohhh, dua hari yang lalu, Minho
mengalami kecelakaan, parah sekali ya kecelakaannya, benar kan?”Kata-kata Amber barusan terdengar
seperti petir yang menggelegar di telingaku. Pensil dan buku sketsa ku terjatuh
dari genggamanku. Aku menangis. Mungkin mengangisi Minho.“Maafkan aku Sulli, kukira kau
sudah mendengar beritanya.” Kata Amber menyesal.Aku tetap diam. Masih berusaha
menata hatiku.Malam ini juga aku harus terbang ke
Korea.
Sulli POV
Sekarang aku sudah ada didalam pesawat. Ya, perjalanan menuju Korea.Aku sudah tidak sanggup menahan perasaanku lebih lama lagi. Aku akui, aku tidak berhasil move on. Semakin aku mencoba, semakin rasanya aku ingin mengakhiri hidupku.Saat mendengar kabar bahwa Minho oppa kecelakaan, satu-satunya yang kupikirkan adalah mengecek kebenarannya melalui di internet. Aku segera membrowsing melalui google, dan ternyata benar.Ini membuat hati dan pikiranku semakin kalut.Aku semakin hancur saat mengetahui jika saat ini Minho oppa sedang kritis.
Krystal POV
Aku tidak sanggup melihat bagaimana
keadaan Minho opa saat ini. Ia sahabat Onew oppa, dan itu artinya, ia juga
sahabatku. Sejak kepergian Sulli, hidup Minho menjadi sangat tidak teratur. Ia
selalu murung ,selalu uring-uringan, pokoknya ia menjadi seperti tak semangat
lagi menjalani hidupnya.Dan tiga hari yang lalu, kejadian
naas itu terjadi, di persimpangan jalan, saat ia sedang menyetir sendirian,
padahal ia sendiri tahu jika kemampuannya menyetir sangat payah, tetapi ia
tetap saja nekat. Mobilnya bertabrakan dengan sebuah truk yang sedang mengebut.
Dan disinilah ia sekarang. Terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Keadaanya
kritis. Hampir seluruh bagian tubuhnya dibebat oleh perban putih. Ia lebih
terlihat seperti Mummy saat ini. Aku berjalan menuju ruang tunggu rumah sakit,
aku berpikir untuk duduk disana saja.Mataku menelusuri isi seluruh ruang
tunggu yang didominasi warna hijau ini… Tunggu dulu… Aku melihat sosok wanita
yang sangat kukenali sedang berbicara dengan suster. Senyumku mengembang secara
otomatis. Itu Sulli!!!“Sulli!!!” kataku sambil
melambaikan sebelah tanganku kearahnya.Ia berlari kearahku. Begitu tiba
dihadapanku, ia langsung memelukku dan menangis. Menangis sejadi-jadinya. Aku
tidak pernah meliihat Sulli sehancur ini sebelumnya.
Sulli POV
Setelah tiba di Korea, aku segera
bergegas ke rumah sakit tempat Minho oppa dirawat.“Minho oppa dimana, Krys?” tanyaku
pada Krystal yang baru saja kutemui sambil terus terisak dalam tangisanku.Krystal menarik lenganku, lalu Krystal
membawaku berlari menyusuri lorong panjang dan berbelok ke kiri diujung lorong,
kami berhenti didepan pintu ruang rawat bernomor 293.
Oew oppa dan Jonghyun oppa sedang
duduk dikursi yang ada didepan ruang rawat. Mereka sempat terkejut saat melihat
kedatanganku, tetapi mereka akhirnya hanya mengatakan “Senang bertemu denganmu,
Baby Ssul.”Mereka masih sama seperti dulu.
Memanggilku dengan sebutan Baby Ssul.“Temui dia didalam, ia belum juga
sadar sejak 3 hari yang lalu.” Ujar Jonghyun.Tanganku merasakan dingin saat
menyentuh kenop pintu ruangan bernomor 293 tersebut. Dengan sekuat tenaga, aku
berusaha untuk memutar kenop pintu tersebut dan melangkah masuk.Kini aku sudah didalam, aku masih
menundukan kepalaku, terpaku didepan pintu.Aku masih belum sanggup melihat Minho
oppa, aku berpikir untuk keluar lagi. Tapi aku datang sejauh ini memang untuk
melihatnya, kan? Jadi, aku berusaha mengangkat kepalaku. Hatiku benar-benar
hancur menjadi ratusan bahkan ribuan keping saat melihat bagaimana keadaan
Minho oppa saat ini.
Air mataku tak dapat kutahan lagi. Aku berjalan menghampiri ranjang tempat Minho oppa berbaring, sambil berusaha mencari pegangan agar tetap kuat berdiri, aku memperhatikan Minho oppa dari bagian bawah tubuhnya hingga bagian atas tubuhnya. Kakinya digips, kepalanya diperban, tubuhnya pun penuh perban.Aku duduk di kursi yang ada di sebelah ranjang Minho oppa.“Mianhae oppa, ini semua salahku, aku terlalu bodoh meninggalkanmu, aku memang bodoh, aku ingin bertukar posisi denganmu oppa, aku ingin bertanggung jawab atas segalanya.” Aku menangis sejadi-jadinya. Aku tak peduli dengan lengan mantel ku yang basah karena kugunakan untuk mengelap air mataku terus menerus.“Bertahanlah oppa, aku yakin kau kuat, dan… jika kau bisa mendengar suaraku, tolong aku, tolong buka matamu, tolong supaya aku bisa memperbaiki segalanya.”Ujarku, namun Minho tetap tak bergeming dan tidak juga membuka matanya.
Suasana diruangan ini kemudian menjadi hening. Hanya suara alat pendeteksi detak jantung Minho yang terus berbunyi secara teratur.Aku merebahkan kepalaku di sisi ranjang Minho oppa, lalu memejamkan kedua mataku sambil terus berdoa agar Minho oppa cepat membuka matanya.“Senang bertemu denganmu, lovely baby ssul.” Suara berat yang sangat kurindukan itu membuat ku tersadar. Minho oppa sudah sadar, dan ia tersenyum di sela-sela lilitan perbannya.“Jeongmal bogoshipo chagiya.” katanya lagi.Aku masih belum bisa menemukan suaraku. Aku terus menangis.“Kau masih mau duduk termenung disitu dan menangis, atau kau mau menolongku untuk memanggilkan dokter untukku?” kata Minho oppa dengan nada bercanda. Ia masih Minho yang dulu. Minho oppa yang dulu adalah milikku.Aku tersenyum dan segera berlari keluar untuk memanggil dokter. Onew, Jonghyun dan Krystal secara refleks, menyerbu masuk kedalam ruangan saat mendengar Minho oppa sudah sadar. Beberapa waktu kemudian, dokter dan tiga orang suster datang lalu memeriksa keadaan Minho.
Author’s POV
Sudah satu bulan semenjak Minho sadar. Sekarang ia masih dirawat dirumah sakit untuk masa pemulihan. Dan kini, waktunya untuk membuka perban yang selama ini menutupi tubuhnya. Sulli berdiri si sisi ranjang Minho.Minho terus menggenggam tangan Sulli.“Chagiya, kau tahu tidak, aku sebenarnya takut!!” kata Minho pada Sulli dengan tampangnya yang polos.Sulli tersenyum, “Everything’s gonna be okay oppa!” kata Sulli.Dokter mulai membuka satu persatu perban yang ada di tubuh Minho.
Minho POV
Semua perban yang menempel di tubuhku sudah dilepaskan oleh dokter.Tapi anehnya, mengapa aku tidak bisa merasakan kedua kaki ku.“Dokter, kenapa aku tidak bisa merasakan kedua kaki ku?” tanyaku akhirnya pada Dokter Siwon, dokter yang menanganiku selama ini.Dokter Siwon menaikkan sebelah alisnya, lalu mencubit kedua kaki ku.Aku menggeleng, aku tidak merasakan apapun.Dokter Siwon, mengulanginya lagi. Tetapi, tetap sama. Aku tak dapat merasakan apapun.“Bisa keluar sebentar, Nona? Aku ingin memeriksanya.” Pinta Dokter Siwon pada Sulli.Kini Sulli telah kembali kedalam pelukanku, ia kembali menjadi kekasihku..Sulli melepaskan genggaman tangannya denganku, lalu tersenyum kearahku. Senyum yang menjadi alasanku untuk tetap hidup.
Sulli POV
Dokter Siwon meminta ku untuk keluar ruangan, aku menurutinya. Dari awal, aku sudah merasakan sesuatu yang buruk terjadi pada Minho oppa, saat ia mengatakan bahwa ia tidak dapat merasakan kedua kakinya.Aku hanya bisa menunggu dan pasrah. Kemudian, aku mengirim sms kepada member SHINee yang lain, juga Krystal dan Luna. meminta mereka datang kesini.Beberapa waktu kemudian, Iphone ku bergetar, tanda ada balasan sms datang. Itu dari mereka.“Kami dalamperjalanan ssul.” Begitu kata mereka.Dua puluh menit kemudian, Dokter Siwon keluar dari ruangan, wajahnya terlihat lesu, ia menatapku. Seperti terlintas kekecewaan di kedua bola mata lelaki separuh baya ini.“Minho lumpuh” katanya singkat.“Mwo!!?” aku benar-benar sangat terkejut.“Ini tidak diketahui sebelumnya” lanjut Dokter Siwon.Aku segera menerobos masuk kedalam ruangan, tidak peduli dengan salah satu suster yang hampir tertabrak pintu.Aku melihat Minho oppa sedang menundukkan kepalanya.“Oppa, kau tidak apa apa?” kataku, pelan.Ia menoleh kearahku, matanya basah, begitu juga dengan pipinya, ia menangis. Dan ini pertama kalinya kulihat ia menangis.“Aku lumpuh, Chagi!” dari caranya berbicara, aku tahu perasaannya saat ini sangat kalut.“That’s okay, Oppa.” Kataku sambil memeluk Zayn.Aku mendengar suara derap langkah kaki beberapa orang yang sedang berlari di lorong. Sedetik kemudian, Onew, Key, Jonghyun, Taemin, Luna, Krystal sudah berebut masuk kedalam ruangan . Aku melepaskan pelukan ku pada Minho oppa.“Hyung, kau tak apa? Apa yang terjadi padamu?” tanya Taemin.Minho tidak menjawab.“Sulli, semuanya baik-baik sajakan?” tanya Jonghyun oppa padaku.Aku tetap diam dan tak bergeming.“Ada sesuatu yang bisa kami lakukan untuk kalian?” tanya Luna hati-hati.“Bisakah kalian keluar? Aku hanya ingin sendiri.” Kami semua menoleh kearah Minho oppa yang berbicara dengan suara pelan dan lirih.“Tapi…” tukas Key.“Aku bilang, tinggalkan aku!!!” kali ini Minho berteriak.Kami semua terperanjat. Lalu melangkah gontai keluar ruangan.
Onew POV
Kami semua masih belum percaya dengan apa yang terjadi. Kedua kaki Minho mengalami kelumpuhan. Aku jadi tidak tega melihatnya. Saat ini kami semua sedang menangis. Menangisi nasib teman kami yang kehilangan kedua kakinya.“Minho akan baik-baik saja kan oppa?” ujar Krystal sambil memegang tanganku.Aku tersenyum “Iya, Chagi” Lalu, aku mencium kening dan kedua pipinya.Sulli terlihat sangat hancur saat ini. Ia yang menangis paling keras. Minho juga masih ingin sendirian di dalam kamarnya. Kami tahu sekarang ia juga sedang menangis. Tapi kami juga tahu, selama ada Sulli di sisi Minho, Minho akan kembali seperti dulu lagi. Mungkin tidak dengan kedua kakinya. Tetapi di sisi keceriaannya.
Author’s POV
Sulli mencoba mengetuk pintu kamar rawat Minho, sambil membawa nampan makanan untuk Minho. Sejak kemarin, Minho tidak mau makan.“Kalau itu Sulli, cepatlah masuk, tapi kalau bukan, jangan coba-coba.” Suara Minho terdengar dari dalam. Sulli tersenyum, lalu mendorong pintu kamar dengan kakinya, ia berusaha menyeimbangkan tubuhnya agar ia tidak menumpahkan seluruh isi nampan.“Tampaknya kau kesulitan, tapi mianhae, aku tidak bisa membantumu, kau kan tahu kaki ku lumpuh.” Nada bicara Minho terdengar seperti merendahkan dirinya sendiri.“Jangan banyak bicara, dan lain kali jaga ucapanmu, Oppa!” Sulli menjintak kepala Minho dengan jari telunjuknya. Minho pun cemberut.“Cepat habiskan makananmu!” perintah Sulli.“Aniyo, kau galak sekali” kata Minho.Sulli tersenyum. Hari ini Minho sudah jauh lebih baik. Ia mulai bisa menerima keadaannya. Ia juga tidak sehancur kemarin. Sulli sangat merasa bahagia.“Anak bodoh, cepat makan!!” Sulli bertolak pinggang sambil melotot.
Minho tertawa melihatnya.“Kau tahu tidak, kau terlihat
sangat lucu kalau seperti itu” ujarnya.“Cepat habiskan makananmu, Oppa!”
tukas SulliMinho mengambil nampan makanan dari
tangan Sulli.
“Kalau dipikir-pikir, aku lapar
juga” gurau Minho.Sulli tertawa. ‘Gomawo ,Tuhan. Ia
tetap Minho oppa yang dulu.’ Katanya dalam hati.
Key POV
Aku senang bisa melihat Minho kembali tersenyum lagi. Mungkin kami semua harus berterima kasih kepada Sulli. Tanpanya, entah apa jadinya Minho saat ini.“Gomawo, Sulli.” Kataku pada Sulli saat ia keluar dari ruangan Minho sambil membawa nampan bekas makanan Minho.“Kami tidak tahu, apa jadinya Minho tanpamu, Ssul..” tegas ku.“Itu sudah menjadi tugasku, Oppa” tukas Sulli sembari tersenyum.“Our Lovely Baby Ssul” gurauku sambil mengacak-ngacak rambut hitamnya.“Hentikan, Oppa!!” ujar Sulli sambil merapihkan rambutnya menggunakan jari tangannya.
Author’s POV
Selesai makan, Minho, Sulli, Onew, Jonghyun, Key, Taemin, Luna dan Krystal bersantai di taman rumah sakit.Jonghyun dengan Luna asyik bermain air mancur, Onew dan Krystal asyik bermain kejar-kejaran, Key sedang mengajak bicara burung parkit peliharaan rumah sakit, dan Taemin yang sedang duduk di bangku taman sambil memakan cemilannya itu.Sulli dan Minho, sedang berjalan-jalan disekitar taman. Sulli dengan senang hati mendorong kursi roda untuk Minho. Mereka berhenti di salah satu kursi panjang yang ada di sudut taman.“Waeyo Chagiya?” tanya Minho. Sulli mengalihkan pandangannya kearah Minho.“Kenapa apanya Oppa?” tanyanya lembut.“Kenapa kau mencintaiku?” kata Minho.“Apakah aku harus mempunyai alasan untuk itu?” ujar Sulli.“Meskipun kedua kaki ku lumpuh?” tanya Minho lagi.“Yaa phabo! Aku itu mencintaimu, bukan kakimu!!” tukas Sulli, sambil mencubit pipi Minho“Kau boleh mencari laki-laki yang lain chagi, kalau kau mau.” Gurau Minho.“Jangan bicara sembarangan, Oppa!! Ditinggal sebentar saja kau sudah sampai kecelakaan, apalagi ditinggal untuk laki-laki lain.” Ucap Sulli asal.“Mungkin aku akan mati.” Tukas Minho.Hening.“Yaa, bagaimana kalau aku yang mencari wanita lain?” ujar Minho.“Coba saja kalau kau berani.” Kata Sulli sambil menaikkan sebelah alisnya dan melipat kedua tangannya di depan dada.“Tidak jadi ah, aku khawatir kau tidak sanggup move on.” Ledek Minho. “Phaboyaa!!” Ujar Sulli sambil mengacak-ngacak rambut Minho.
Minho memperhatikan Sulli.“Ngomong-ngomong, hari ini kau terlihat sangat cantik dengan lace dress biru itu.” Ujar Minho dengan ekspresi datarnya.“Ini warna hijau phabo!!” tukas Sulli cepat.Mereka berpandangan. Lama. Sulli berlutut didepan Minho supaya dapat menyamakan tingginya dengan kursi roda Minho. Minho mencondongkan tubuhnya, mencoba untuk mencium bibir Sulli. Namun Sulli menghindar.“Tidak kena.” Ledek Sulli sambil menjulurkan lidahnya.“Kau jahat Chagi.” Gurau Minho.Minho berpura-pura marah, hal ini membuat Sulli tersenyum.Sulli meraih kepala Minho dengan kedua tangannya, lalu menempelkan bibirnya ke bibir Minho. Yap. Mereka berciuman.
Kini mereka terlarut dalam emosi mereka masing-masing.Hingga akhirnya…“Hey!!!” teriak Taemin. Membuat Minho dan Sulli terpaksa menghentikan ciumannya dan menoleh kearah Taemin.Yang lain juga ikut menoleh kearah Taemin.Taemin bangkit dari kursinya.“Ada yang tahu dimana restoran di sekitar sini?” tanya Taemin sambil mengusap-usap perutnya. Seperti mengisyaratkan pada cacing-cacing dalam perutnya untuk bersabar sebentar.“Aku lapar!!!” tambah Taemin masih sambil berteriak. Kami semua tertawa. Padahal, kami semua juga tahu ia baru saja menghabiskan dua bungkus cemilan kesukaan nya.Sulli menggelengkan kepalanya pelan.“Kau tidak bercandakan?ll!!!” katanya.“Aku serius.” Kata Taemin kencang dan datar.Semuanya berhenti tertawa.Lalu hening.
----The End----
Langganan:
Postingan (Atom)
