-OneShoot-
The Last Promise
Hey namaku Choi Sulli, aku punya seseorang yang sangat special dalam hidupku, dialah Choi Minho, yah itu sangat tampan bukan? Pagi ini dia datang menemuiku, duduk di sampingku dan tersenyum menatapku. Aku benar-benar tak berdaya melihat tatapan itu, tatapan yang begitu hangat, penuh harap dan selalu membuatku bisa memaafkannya. Aku sadar, aku sangat mencintainya, aku tidak ingin kehilangan dia, meski dia sering menyakiti hatiku dan membuatku menangis. Tidak hanya itu, akupun kehilangan sahabatku, aku tidak peduli dengan perkataan orang lain tentang aku. Aku akan tetap memaafkan Minho oppa, meskipun dia sering menghianati cintaku.
“Aku gak tau harus bilang apa lagi, buat kesekian kalinya oppa selingkuh! Oppa udah ngancurin kepercayaan aku!”
Aku tidak sanggup menatap matanya lagi, air mataku jatuh begitu deras menghujani wajahku. Aku tak berdaya, begitu lemas dan dia memelukku erat.
“Miabhae chagi, mianhae! Aku janji gak akan nyakitin kamu lagi. Aku janji chagiya. Aku sayang kamu! Uljima, kamu jangan nangis lagi!”
Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi selain memaafkannya, aku tidak ingin kehilangan Minho, aku sangat mencintainya.
Malam ini Minho oppa menjemputku, kami akan kencan dan makan malam. Aku sengaja mengenakan gaun merah muda pemberian Miho oppa dan berdandan secantik mungkin. Kutemui Minho oppa di ruang tamu, Dia tersenyum, memandangiku dari atas hingga bawah.
“Chagi, neomu neomu yeppeoda.”
“Gomawo oppa. Kita jadi dinner kan?”
“Ne tentu, tapi chagi, malam ini aku gak bawa mobil dan mobil kamu masih di bengkel, kamu gak keberatan kita naik Taksi?”
“Aniyo oppa, yaudah kita panggil Taksi aja, kajja.”
Dengan penuh semangat aku menggandeng lengan Minho oppa. Ini benar-benar menyenangkan, disepanjang perjalanan Minho oppa menggenggam erat tanganku, aku bersandar dibahu Minho oppa menikmati perjalanan kami dan melupakan semua kesalahan yang telah Minho oppa perbuat padaku.
Kami berhenti disebuah kedai di pinggir jalan. Aku sedikit ragu, apa Minho oppa benar-benar mengajakku makan ditempat seperti ini. Aku tahu betul sifat Minho oppa, dia tidak mungkin mau makan di kedai kecil di pinggir jalan seperti ini.
“Waeyo oppa? Mienya gak enak?”
“Aniyo, mienya enak, Cuma panas aja. Kamu gak apa-apa kan makan ditempat kaya gini chagi?”
“Ani oppa. Aku sering kok makan ditempat kaya gini. Mienya enak loh. oppa kunyah pelan-pelan dan nikmati rasanya dalam-dalam.”
Aku yakin, Minho oppa gak pernah makan ditempat kaya gini. Tapi sepertinya Minho oppa mulai menikmati makanannya, dia bercerita panjang lebar tentang teman-temannya, keluarganya dan banyak hal. Dua tahun bersama Minho oppa bukan waktu yang singkat, dan tidak mudah untuk mempertahankan hubungan kami selama ini. Minho oppa sering menghianati aku, bukan satu atau dua kali Minho oppa berselingkuh, tapi dia tetap kembali padaku. Dan aku selalu memaafkannya, itu yang membuatku kehilangan sahabat-sahabatku. Mereka benar, aku yeoja phabo yang mau dipermainkan oleh namja seperti dia. Meskipun kini mereka menjauhiku, aku tetap menganggap mereka sahabatku.
Selesai makan Minho oppa nampak kebingungan, dia mencari-cari sesuatu dari saku celananya.
“Apa dompetku ketinggalan di Taksi?”
“Yakin di saku gak ada oppa?”
“Eopseo. Gimana dong?”
“Yaudah, pake uang aku aja ne. Setiap jalan selalu oppayang traktir aku, sekarang giliran aku yang traktir oppa. Ok!”
“Arraseo, Gomawo chagi, mian.”
Saat di kampus, aku bertemu dengan Krystal dan Jiyoung. Aku sangat merindukan kedua sahabatku itu, hampir empat bulan kami tidak bersama, hingga saat ini mereka tetap sahabat terbaikku. Saat berpapasan, Jiyoung menarik tanganku.
“Ssul, kamu sakit? Kok wajahmu pucet sih?”
Jiyoung bicara padaku, ini seperti mimpi, Jiyoung masih peduli padaku.
“Aniya, Cuma capek aja kok Jiyoung. Kalian apa kabar?”
“Jelas capek lah, punya pacar diselingkuhin terus! Lagian mau aja sih dimainin sama namja playboy kayak Minho oppa! Jangan-jangan Minho oppa gak sayang sama kamu? Ups, keceplosan.”
“Kumane Krystal! Kumane rago!! Kasian Sulli! Kamu kenapa sih Krystal bahas itu mulu? Sulli kan gak salah.” “Udah deh Jiyoung kamu diem aja! Harusnya kamu ngaca Sulli! Kenapa kamu diselingkuhin terus!”
Kystal benar, jangan-jangan Minho oppa gak sayang sama aku, Minho oppa gak cinta sama aku, itu yang buat Minho oppa selalu menghianati aku. Selama ini aku gak pernah berfikir ke arah sana, mungkin karena aku terlalu mencintai Minho oppa dan takut kehilangan dia. Semalaman aku memikirkan hal itu, aku ragu terhadap perasaan Minho oppa padaku. Jika benar Minho oppa tidak mencintaiku, aku benar-benar tidak bisa memaafkannya lagi.
Meskipun tidak ada jadwal kuliah, aku tetap pergi ke kampus untuk mengerjakan tugas kelompok. Setelah larut malam dan kampus sudah hampir sepi aku pun pulang. Saat sampai ke tempat parkir, aku melihat Minho oppa bersama seorang yeoja. Aku tidak bisa melihat wajah yeoja itu karena dia membelakangiku. Mungkin Minho oppa menghianatiku lagi. Kali ini aku tidak bisa memaafkannya. Mereka masuk ke dalam mobil, aku bisa melihat yeoja itu, sangat jelas, dia sahabatku, Krystal….
Sungguh, aku benar-benar tidak bisa memaafkan Minho oppa. Akan ku pastikan, apa Minho oppa akan jujur padaku atau dia akan membohongiku, ku ambil ponselku dan menghubungi Minho oppa.
“Yeoboseyo, oppa bisa jemput aku sekarang?”
“Mianhae chagi, aku gak bisa kalau sekarang. Aku sedang mengantar noonaku, kamu gak bawa mobil chagi?”
“Emang noona oppa mau kemana?”
“Mau ke…, itu mau belanja. Sekarang kamu dimana?”
“Oppa! Sejak kapan oppa mau nganter noonamu belanja? Apa sejak Krystal jadi noonamu oppa? Hah?!!”
“Ssul, kamu ngomong apa chagiya? Kamu bilang sekarang lagi dimana?”
“Aku liat sendiri oppa pergi sama Krystal! Oppa gak usah bohongin aku! Kali ini aku gak bisa maafin oppa! kenapa oppa harus selingkuh sama Krystal? Sahabat aku? Waeyo oppa??!! Aku benci oppa! Mulai sekarang aku gak mau liat oppa lagi! Kita Putus oppa!”
“Sulli-ah, ini gak…….”
Kubuang ponselku, kulaju mobilku dengan kecepatan tertinggi, air mataku terus berjatuhan, hatiku sangat sakit, aku harus menerima kenyataan bahwa Minho oppa tidak mencintaiku, dia berselingkuh dengan sahabatku.
Beberapa hari setelah kejadian itu aku tidak masuk kuliah, aku hanya bisa mengurung diri di kamar dan menangis. Beruntung Ibu dan Ayah mengerti perasaanku, mereka memberikan semangat padaku dan mendukung aku untuk melupakan Minho oppa, meskipun aku tau itu tak mudah. Setiap hari Minho oppa datang ke rumah dan meminta maaf, bahkan Minho oppa sempat semalaman berada di depan gerbang rumahku, tapi aku tidak menemuinya. Aku berjanji tidak akan memafkan dia, dan janjiku takan kuingkari, tidak seperti janji-janji Minho oppa yang tidak akan menghianatiku yang selalu dia ingkari.
Hari ini kuputuskan untuk pergi kuliah, aku berharap tidak bertemu dengan Minho oppa. Tapi seusai kuliah, tiba-tiba Minho oppa ada dihadapanku.
“Mianhae Ssul! Aku dan Krystal gak ada hubungan apa-apa. Aku Cuma nanyain tentang kamu ke dia Ssul!
“Kita udah putus Oppa! Jangan ganggu aku lagi! Sekarang oppa bebas! Oppa mau punya pacar tujuh juga bukan urusan aku!”
“Tapi Ssul, Sulli-ah…..”
Aku berlari meninggalkan Minho oppa, meskipun aku sangat mencintainya, aku harus bisa melupakannya. Minho oppa terus mengejarku dan mengucapkan kata maaf. Tapi aku tak pedulikan dia, aku semakin cepat berlari dan menyebrangi jalan raya. Ketika sampai di seberang jalan, terdengar suara tabrakan, dan…………
“Oppaaaaaaa…..”
Minho oppa tertabrak mobil saat mengejarku, dia terpental sangat jauh. Mawar merah yang ia bawa berserakan bercampur dengan merahnya darah yang keluar dari kepalanya.
“Oppa, Mianhae!”
“Sulli-ah. Mi-an mi-anh-ae a-ku jan-ji jan-ji ga sa-ki-tin ka-mu la-gi sa-ra-ng-han da-go a-ku ma-u ni-kah sa-ma kam……”
“Oppaaaaaaaa……”
Minho oppa meninggal saat itu juga, ini semua salahku, jika aku mau memaafkan Minho oppa semua ini takan terjadi. Sekarang aku harus menerima kenyataan ini, kenyataan yang sangat pahit yang tidak aku inginkan, yang tidak mungkin bisa aku lupakan. Minho oppa menghembuskan nafas terakhirnya dipelukanku, disaat terakhir dia berjanji takkan menyakitiku lagi, disaat dia mengatakan mencintaiku dan ingin menikah denganku. Dia mengatakan semuanya disaat meregang nyawa ketika menahan sakit dari benturan keras, ketika darahnya mengalir begitu deras membasahi aspal jalanan. Rasanya ingin sekali menemani Minho oppa didalam tanah sana, menemaninya dalam kegelapan, kesunyian, kedinginan, aku tidak bisa berhenti menangis, menyesali perbuatanku, aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri.
Satu minggu setelah Minho oppa meninggal, aku masih menangis, membayangkan semua kenangan indah bersamanya yang tidak akan pernah terulang lagi. Senyumannya, tatapannya, takan pernah bisa kulupakan.
“Aegy, ini ada titipan dari Choi ajhumma . Kamu jangan melamun terus dong! Kamu harus bangkit! Biarkan Minho tenang di alam sana. eomma yakin kamu bisa!”
“Ini salah aku eomma. Aku butuh waktu.”
Kubuka bingkisan dari Choi ajhumma eommanya Minho oppa, didalamnya ada kotak kecil berwarna merah, mawar merah yang telah layu dan amplop berwarna merah. Didalam kotak merah itu terdapat sepasang cincin. Aku pun menangis kembali dan membuka amplop itu.
“Dear Sulli,
Chagiya, mianhae, aku janji gak akan nyakitin kamu, aku sangat mencintai kamu, semua yang udah aku lakuin itu buat ngeyakinin kalo cuma kamu yang terbaik buat aku, cuma kamu yang aku cinta. Aku harap, kamu mau nemenin aku sampai aku menutup mata, sampai aku menghembuskan nafas terakhirku. Dan cincin ini akan menjadi cincin pernikahan kita. Saranghandago <3, aku tidak ingin berpisah denganmu Ssul.”
Saranghae
Minho
Air mataku mengalir semakin deras dari setiap sudutnya, kupakai cincin pemberian Minho oppa, aku berlari menghampiri eomma dan memeluknya.
“Eomma, aku udah menikah dengan Minho oppa!”
“Sulli-ah, waeyo aegy?”
“Igo!” Kutunjukan cincin pemberian Minho oppa dijari manisku.
“Ssul, kamu butuh waktu aegy. Kamu harus kuat!”
“Sekarang aku mau cerai sama Minho oppa eomma!” kulepas cincin pemberian Minho oppa dan memberikannya pada eomma.
“Aku titip cincin pernikahanku dengan Minho oppa eomma! eomma harus menjaganya dengan baik!” Eomma memeluku erat dan kami menangis bersama-sama.
-The End-
“Aku gak tau harus bilang apa lagi, buat kesekian kalinya oppa selingkuh! Oppa udah ngancurin kepercayaan aku!”
Aku tidak sanggup menatap matanya lagi, air mataku jatuh begitu deras menghujani wajahku. Aku tak berdaya, begitu lemas dan dia memelukku erat.
“Miabhae chagi, mianhae! Aku janji gak akan nyakitin kamu lagi. Aku janji chagiya. Aku sayang kamu! Uljima, kamu jangan nangis lagi!”
Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi selain memaafkannya, aku tidak ingin kehilangan Minho, aku sangat mencintainya.
Malam ini Minho oppa menjemputku, kami akan kencan dan makan malam. Aku sengaja mengenakan gaun merah muda pemberian Miho oppa dan berdandan secantik mungkin. Kutemui Minho oppa di ruang tamu, Dia tersenyum, memandangiku dari atas hingga bawah.
“Chagi, neomu neomu yeppeoda.”
“Gomawo oppa. Kita jadi dinner kan?”
“Ne tentu, tapi chagi, malam ini aku gak bawa mobil dan mobil kamu masih di bengkel, kamu gak keberatan kita naik Taksi?”
“Aniyo oppa, yaudah kita panggil Taksi aja, kajja.”
Dengan penuh semangat aku menggandeng lengan Minho oppa. Ini benar-benar menyenangkan, disepanjang perjalanan Minho oppa menggenggam erat tanganku, aku bersandar dibahu Minho oppa menikmati perjalanan kami dan melupakan semua kesalahan yang telah Minho oppa perbuat padaku.
Kami berhenti disebuah kedai di pinggir jalan. Aku sedikit ragu, apa Minho oppa benar-benar mengajakku makan ditempat seperti ini. Aku tahu betul sifat Minho oppa, dia tidak mungkin mau makan di kedai kecil di pinggir jalan seperti ini.
“Waeyo oppa? Mienya gak enak?”
“Aniyo, mienya enak, Cuma panas aja. Kamu gak apa-apa kan makan ditempat kaya gini chagi?”
“Ani oppa. Aku sering kok makan ditempat kaya gini. Mienya enak loh. oppa kunyah pelan-pelan dan nikmati rasanya dalam-dalam.”
Aku yakin, Minho oppa gak pernah makan ditempat kaya gini. Tapi sepertinya Minho oppa mulai menikmati makanannya, dia bercerita panjang lebar tentang teman-temannya, keluarganya dan banyak hal. Dua tahun bersama Minho oppa bukan waktu yang singkat, dan tidak mudah untuk mempertahankan hubungan kami selama ini. Minho oppa sering menghianati aku, bukan satu atau dua kali Minho oppa berselingkuh, tapi dia tetap kembali padaku. Dan aku selalu memaafkannya, itu yang membuatku kehilangan sahabat-sahabatku. Mereka benar, aku yeoja phabo yang mau dipermainkan oleh namja seperti dia. Meskipun kini mereka menjauhiku, aku tetap menganggap mereka sahabatku.
Selesai makan Minho oppa nampak kebingungan, dia mencari-cari sesuatu dari saku celananya.
“Apa dompetku ketinggalan di Taksi?”
“Yakin di saku gak ada oppa?”
“Eopseo. Gimana dong?”
“Yaudah, pake uang aku aja ne. Setiap jalan selalu oppayang traktir aku, sekarang giliran aku yang traktir oppa. Ok!”
“Arraseo, Gomawo chagi, mian.”
Saat di kampus, aku bertemu dengan Krystal dan Jiyoung. Aku sangat merindukan kedua sahabatku itu, hampir empat bulan kami tidak bersama, hingga saat ini mereka tetap sahabat terbaikku. Saat berpapasan, Jiyoung menarik tanganku.
“Ssul, kamu sakit? Kok wajahmu pucet sih?”
Jiyoung bicara padaku, ini seperti mimpi, Jiyoung masih peduli padaku.
“Aniya, Cuma capek aja kok Jiyoung. Kalian apa kabar?”
“Jelas capek lah, punya pacar diselingkuhin terus! Lagian mau aja sih dimainin sama namja playboy kayak Minho oppa! Jangan-jangan Minho oppa gak sayang sama kamu? Ups, keceplosan.”
“Kumane Krystal! Kumane rago!! Kasian Sulli! Kamu kenapa sih Krystal bahas itu mulu? Sulli kan gak salah.” “Udah deh Jiyoung kamu diem aja! Harusnya kamu ngaca Sulli! Kenapa kamu diselingkuhin terus!”
Kystal benar, jangan-jangan Minho oppa gak sayang sama aku, Minho oppa gak cinta sama aku, itu yang buat Minho oppa selalu menghianati aku. Selama ini aku gak pernah berfikir ke arah sana, mungkin karena aku terlalu mencintai Minho oppa dan takut kehilangan dia. Semalaman aku memikirkan hal itu, aku ragu terhadap perasaan Minho oppa padaku. Jika benar Minho oppa tidak mencintaiku, aku benar-benar tidak bisa memaafkannya lagi.
Meskipun tidak ada jadwal kuliah, aku tetap pergi ke kampus untuk mengerjakan tugas kelompok. Setelah larut malam dan kampus sudah hampir sepi aku pun pulang. Saat sampai ke tempat parkir, aku melihat Minho oppa bersama seorang yeoja. Aku tidak bisa melihat wajah yeoja itu karena dia membelakangiku. Mungkin Minho oppa menghianatiku lagi. Kali ini aku tidak bisa memaafkannya. Mereka masuk ke dalam mobil, aku bisa melihat yeoja itu, sangat jelas, dia sahabatku, Krystal….
Sungguh, aku benar-benar tidak bisa memaafkan Minho oppa. Akan ku pastikan, apa Minho oppa akan jujur padaku atau dia akan membohongiku, ku ambil ponselku dan menghubungi Minho oppa.
“Yeoboseyo, oppa bisa jemput aku sekarang?”
“Mianhae chagi, aku gak bisa kalau sekarang. Aku sedang mengantar noonaku, kamu gak bawa mobil chagi?”
“Emang noona oppa mau kemana?”
“Mau ke…, itu mau belanja. Sekarang kamu dimana?”
“Oppa! Sejak kapan oppa mau nganter noonamu belanja? Apa sejak Krystal jadi noonamu oppa? Hah?!!”
“Ssul, kamu ngomong apa chagiya? Kamu bilang sekarang lagi dimana?”
“Aku liat sendiri oppa pergi sama Krystal! Oppa gak usah bohongin aku! Kali ini aku gak bisa maafin oppa! kenapa oppa harus selingkuh sama Krystal? Sahabat aku? Waeyo oppa??!! Aku benci oppa! Mulai sekarang aku gak mau liat oppa lagi! Kita Putus oppa!”
“Sulli-ah, ini gak…….”
Kubuang ponselku, kulaju mobilku dengan kecepatan tertinggi, air mataku terus berjatuhan, hatiku sangat sakit, aku harus menerima kenyataan bahwa Minho oppa tidak mencintaiku, dia berselingkuh dengan sahabatku.
Beberapa hari setelah kejadian itu aku tidak masuk kuliah, aku hanya bisa mengurung diri di kamar dan menangis. Beruntung Ibu dan Ayah mengerti perasaanku, mereka memberikan semangat padaku dan mendukung aku untuk melupakan Minho oppa, meskipun aku tau itu tak mudah. Setiap hari Minho oppa datang ke rumah dan meminta maaf, bahkan Minho oppa sempat semalaman berada di depan gerbang rumahku, tapi aku tidak menemuinya. Aku berjanji tidak akan memafkan dia, dan janjiku takan kuingkari, tidak seperti janji-janji Minho oppa yang tidak akan menghianatiku yang selalu dia ingkari.
Hari ini kuputuskan untuk pergi kuliah, aku berharap tidak bertemu dengan Minho oppa. Tapi seusai kuliah, tiba-tiba Minho oppa ada dihadapanku.
“Mianhae Ssul! Aku dan Krystal gak ada hubungan apa-apa. Aku Cuma nanyain tentang kamu ke dia Ssul!
“Kita udah putus Oppa! Jangan ganggu aku lagi! Sekarang oppa bebas! Oppa mau punya pacar tujuh juga bukan urusan aku!”
“Tapi Ssul, Sulli-ah…..”
Aku berlari meninggalkan Minho oppa, meskipun aku sangat mencintainya, aku harus bisa melupakannya. Minho oppa terus mengejarku dan mengucapkan kata maaf. Tapi aku tak pedulikan dia, aku semakin cepat berlari dan menyebrangi jalan raya. Ketika sampai di seberang jalan, terdengar suara tabrakan, dan…………
“Oppaaaaaaa…..”
Minho oppa tertabrak mobil saat mengejarku, dia terpental sangat jauh. Mawar merah yang ia bawa berserakan bercampur dengan merahnya darah yang keluar dari kepalanya.
“Oppa, Mianhae!”
“Sulli-ah. Mi-an mi-anh-ae a-ku jan-ji jan-ji ga sa-ki-tin ka-mu la-gi sa-ra-ng-han da-go a-ku ma-u ni-kah sa-ma kam……”
“Oppaaaaaaaa……”
Minho oppa meninggal saat itu juga, ini semua salahku, jika aku mau memaafkan Minho oppa semua ini takan terjadi. Sekarang aku harus menerima kenyataan ini, kenyataan yang sangat pahit yang tidak aku inginkan, yang tidak mungkin bisa aku lupakan. Minho oppa menghembuskan nafas terakhirnya dipelukanku, disaat terakhir dia berjanji takkan menyakitiku lagi, disaat dia mengatakan mencintaiku dan ingin menikah denganku. Dia mengatakan semuanya disaat meregang nyawa ketika menahan sakit dari benturan keras, ketika darahnya mengalir begitu deras membasahi aspal jalanan. Rasanya ingin sekali menemani Minho oppa didalam tanah sana, menemaninya dalam kegelapan, kesunyian, kedinginan, aku tidak bisa berhenti menangis, menyesali perbuatanku, aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri.
Satu minggu setelah Minho oppa meninggal, aku masih menangis, membayangkan semua kenangan indah bersamanya yang tidak akan pernah terulang lagi. Senyumannya, tatapannya, takan pernah bisa kulupakan.
“Aegy, ini ada titipan dari Choi ajhumma . Kamu jangan melamun terus dong! Kamu harus bangkit! Biarkan Minho tenang di alam sana. eomma yakin kamu bisa!”
“Ini salah aku eomma. Aku butuh waktu.”
Kubuka bingkisan dari Choi ajhumma eommanya Minho oppa, didalamnya ada kotak kecil berwarna merah, mawar merah yang telah layu dan amplop berwarna merah. Didalam kotak merah itu terdapat sepasang cincin. Aku pun menangis kembali dan membuka amplop itu.
“Dear Sulli,
Chagiya, mianhae, aku janji gak akan nyakitin kamu, aku sangat mencintai kamu, semua yang udah aku lakuin itu buat ngeyakinin kalo cuma kamu yang terbaik buat aku, cuma kamu yang aku cinta. Aku harap, kamu mau nemenin aku sampai aku menutup mata, sampai aku menghembuskan nafas terakhirku. Dan cincin ini akan menjadi cincin pernikahan kita. Saranghandago <3, aku tidak ingin berpisah denganmu Ssul.”
Saranghae
Minho
Air mataku mengalir semakin deras dari setiap sudutnya, kupakai cincin pemberian Minho oppa, aku berlari menghampiri eomma dan memeluknya.
“Eomma, aku udah menikah dengan Minho oppa!”
“Sulli-ah, waeyo aegy?”
“Igo!” Kutunjukan cincin pemberian Minho oppa dijari manisku.
“Ssul, kamu butuh waktu aegy. Kamu harus kuat!”
“Sekarang aku mau cerai sama Minho oppa eomma!” kulepas cincin pemberian Minho oppa dan memberikannya pada eomma.
“Aku titip cincin pernikahanku dengan Minho oppa eomma! eomma harus menjaganya dengan baik!” Eomma memeluku erat dan kami menangis bersama-sama.
-The End-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar