Sabtu, 26 April 2014

Lovely Baby Ssul

Title: Lovely Baby Ssul

Author: Nur Herda "Choi Ha Sun"
Main cast: Choi Sulli, Choi Minho
Support cast: Park Luna, Krystal Jung, Lee Taemin, Lee Jinki, Kim Jonghyun, Kim Kibum
Length: Oneshoot
Rating: General

 Sulli POV

“Oppa, kau ini sebenarnya ada dimana sekarang? Aku sudah menunggumu satu jam disini.” Kataku sambil agak berteriak melalui Iphone ku.“Lihat saja dibelakangmu.” Jawab Minho. Aku menoleh kebelakang. Aku melihat Minho, sedang tersenyum kearahku diantara banyaknya pengunjung di salah satu mall ini.

Hari ini ia terlihat sangat keren. Hari ini ia mengenakan kaus putih polos model v-neck, kemeja denim warna biru, celana jeans hitam, dan sepatu converse warna putih favoritnya.Minho berlari kecil kearahku.“Mianhae chagi, lain kali tak akan kuulangi lagi” kata Minho sambil kemudian mencium keningku.Ya, inilah aku, Choi jin ri atau Sulli, pacar dari Choi minho, ya benar, Minho yang merupakan salah satu personel dari SHINee. Tidak. Aku tidak mencintainya karena ia terkenal. Aku mencintainya karena, yahh.. dia adalah MINHO.

“Ohhh, ayolah oppa, aku bosan dengan janji-janjimu yang jarang sekali kau tepati itu.” Gurau ku sambil memasang wajah cemberut.“Ohhh, ayolah chagi, mianhae. Aku tidak akan mengulanginya lagi. Aku janji” Katanya sambil tersenyum dan mencubiti pipiku.Aku tertawa, “Yayaya, baiklah”Minho meloncat kegirangan, bahkan ia tak memedulikan sekeliling yang mulai memerhatikan keberadaan kami. Yeoja-yeoja disekeliling kami mulai berbisik-bisik. Bahkan ada yang berteriak “Omo, itukan Minho SHINee.”“Sebaiknya kita cepat pergi dari sini.” Kata Minho sambil menarik tanganku dan berjalan cepat menuju lift.Ya memang sebaiknya begitu. 

Minho POV 

Kalau ditanya mengapa aku mencintainya.Jawabannya… karena dia adalah Choi jin ri, gadis termanis yang pernah kujumpai dalam hidupku. Ia selalu menjadi dirinya sendiri. Ia juga tidak melarangku untuk melakukan hal-hal yang kusukai, yahhh selama itu tidak melanggar batas dan aturan saja.

Saat ini kami sedang berdua, di dalam kamarnya.“Oppa ..” suara lembut yang kusukai terdengar dari samping kiriku.Aku segera menoleh. Mata kami saling bertemu. Tuhan… Aku suka matanya. Aku suka caranya menatapku. Aku suka caranya tersenyum saat menatapku. Aku suka segalanya darinya. Untuk saat ini, ia lah seluruh hidupku.“Oppa …” ulangnya.“Ada apa chagiya?” tanyaku.Wajah manisnya berubah menjadi lesu.“Aku…” ia tidak melanjutkan kata-katanya.Ini membuatku jadi semakin penasaran.“Yaa, ada apa?” kataku“Aku harus kembali. Ke Amerika.”Kembali? Ke Amerika?“Untuk apa?” tanyaku.“Masa kerja appaku disini sudah berakhir. Kami sekeluarga harus kembali ke negara kami.” Ucapnya lirih. Aku tahu ia menetap disini karena pekerjaan appanya. Tapi…Tidak bisa. Aku tidak sanggup hidup tanpa melihat senyumnya, tanpa menatap matanya, tanpa merasakan hangat pelukannya.Berpisah selama tour konser saja sudah membuat ku hampir gila karena merindukannya. Apalagi jika ia harus meninggalkanku ribuan mil jauhnya?“Tidah bisakah kau tinggal?”Ia menggeleng, lalu menjawab. “Aniya oppa, appaku tidak ingin aku tinggal jauh dari keluargaku.”“Kalau begitu, kita bisa menjalani Long Distance Relationship, aku bisa mengunjungimu suatu saat, atau kau yang mengunjungiku.” Usulku.Ia tersenyum, “Aku tidak sanggup menjalaninya, Oppa.”Air matanya mulai menetes.“Aniya chagi. Jangan menangis. Uljima.. Kalau memang itu yang terbaik, lakukanlah.” Kataku akhirnya, sambil meremas lembut jari-jari tangannya yang terasa dingin. 

Author’s POV 

Sulli sedang duduk di kursi ruang tunggu airport. Hari ini adalah hari keberangkatannya kembali Ke Amerika. Ia sudah berada di airport sejak dua jam yang lalu. Pesawat yang akan membawa ia dan keluarganya ke Amerika mengalami delay. Minho ikut mengantarnya ke airport. Bersama Taemin, Onew, Jonghyun, Key, Krystal, juga Luna.“Aku akan merindukanmu, Baby ssul.” Kata Krystal sambil memeluk Sulli.‘Baby Ssul’ begitu teman-temannya memanggilnya. Alasannya? Karena wajahnya manis seperti bayi katanya.Sejak tadi, Luna dan Krystal terus memeluk Sulli.Sulli ingin menangis, tapi sebisa mungkin ia berusaha menaha air matanya agar tidak tumpah.“Katakan saja padanya, Ssul. Mungkin itu akan membuat perasaanmu menjadi lebih tenang” tukas Luna, sambil terus memeluk Sulli.Sulli menoleh kearah Minho. Laki-laki itu sedang duduk termenung di kursinya.“Hmm.. bisa kalian lepaskan pelukan ini sebentar?” ujar Sulli pada Luna dan Krystal. Mereka bertiga saling berpandangan dan tersenyum satu sama lain. Luna dan Krystal melepaskan pelukannya.“Kau pasti bisa melakukannya, Baby ssul.” Ujar Krystal sambil menepuk pelan bahu Sulli. 

Minho POV 

Sekarang aku dan teman-teman yang lain sedang berada di airport. Mengantarkan ‘Our Lovely Baby Ssul’ yang akan meninggalkan Korea hari ini. Aku mengalihkan pandanganku dari gelas Styrofoam starbucks yang sedari tadi kugenggam kearah Sulli. Gadis itu sedang bangkit dari kursinya. Kulihat Krystal menepuk bahunya. Lalu Sulli berjalan kearahku.Dan kini, ia sudah berada di hadapanku.“Bisa kita bicara?” katanya lembut.Aku tersenyum. “Tentu.”Aku bangkit dari kursiku, lalu menitipkan gelas starbucks ku pada Key yang berada di sebelahku.Sulli membawaku agak menjauh dari teman-temanku .Ia tersenyum lesu. “Maafkan aku Oppa, kita harus mengakhiri hubungan ini. Aku sudah pernah bilang kan, aku tidak sanggup menjalani Long Distance Relationship? Lagipula, aku akan melanjutkan kuliah ku disana. Dan tidak tau kapan aku akan kembali kesini lagi.” Jelasnya.Tidak, Ssul. Bukan ini yang ingin kudengar di saat-saat seperti ini.“Aku… Aku tidak sanggup hidup tanpamu, Chagi.” Kataku lesu, sambil menggenggam kedua tangannya.“Tidak Oppa, ini hidup yang harus kita jalani saat ini.”Kami saling bertatapan lama. Ia berjinjit, lalu mendekatkan wajahnya ke wajahku, refleks, aku juga mendekatkan wajahku ke wajahnya, dan dalam sekejap, bibir kami sudah saling terpaut. Ciuman ini mungkin akan menjadi yang terakhir, atau… entahlah.Kami terus berpelukan dan berciuman hingga akhirnya suara pengumuman pesawat menuju Amerika akan segera berangkat.

Sulli tersenyum lagi.“Gomawo Oppa. Gomawo karena telah mencintaiku.” Katanya lirih.Ia berjalan menjauh, menuju tempat teman-teman kami yang sedari tadi menguping.“Kau melakukannya dengan baik, Ssul.” Kata Krystal pada Sulli.Sulli,Luna dan Krystal lalu berpelukan. Diikuti dengan Taemin, Onew, Key dan Jonghyun yang juga ikut berpelukan. Seperti Teletubbies.Sementara aku, tetap berdiri mematung di tempatku. Berusaha menata kepingan-kepingan hatiku yang kini hancur.Pengumuman pesawat yang akan segera take-off membuat mereka menghentikan pelukannya.Sulli tersenyum kearahku.“Selamat tinggal Oppa” katanya.Aniya ssul, jangan ucapkan selamat tinggal.  

Author’s POV 

Sulli terus menggoreskan pensilnya diatas buku sketsanya. Ini tahun ketiganya berada di Amerika, setelah 10 tahun tinggal dan menetap di Korea. Ia mulai terbiasa menjalani hidup tanpa Minho. Awalnya memang sangat sulit, tapi lama kelamaan, ia bisa, meskipun tidak sepenuhnya mampu.Angin sepoi-sepoi di taman kampusnya membuat helai-helai rambutnya berkibar.

Apa yang sebenarnya sejak tadi ia gambar?Ia tersadar saat seseorang datang.“Siapa itu?” tanya Amber, teman kampusnya.“Masa kau tidak tahu?” katanya sembari tersenyum simpul.“Itu…. Minho SHINee kan? Mantan kekasihmu?”Sulli mengangguk “Ne, kau benar.”“Kau sudah dengar beritanya?” tanya Amber. Sulli menoleh kearah Amber sambil menaikkan sebelah alisnya.“Berita? Berita yang mana?” Sulli balik bertanya.“Itu lohhh, dua hari yang lalu, Minho mengalami kecelakaan, parah sekali ya kecelakaannya, benar kan?” 

Sulli POV 

“Itu lohhh, dua hari yang lalu, Minho mengalami kecelakaan, parah sekali ya kecelakaannya, benar kan?”Kata-kata Amber barusan terdengar seperti petir yang menggelegar di telingaku. Pensil dan buku sketsa ku terjatuh dari genggamanku. Aku menangis. Mungkin mengangisi Minho.“Maafkan aku Sulli, kukira kau sudah mendengar beritanya.” Kata Amber menyesal.Aku tetap diam. Masih berusaha menata hatiku.Malam ini juga aku harus terbang ke Korea.  

Sulli POV 

Sekarang aku sudah ada didalam pesawat. Ya, perjalanan menuju Korea.Aku sudah tidak sanggup menahan perasaanku lebih lama lagi. Aku akui, aku tidak berhasil move on. Semakin aku mencoba, semakin rasanya aku ingin mengakhiri hidupku.Saat mendengar kabar bahwa Minho oppa kecelakaan, satu-satunya yang kupikirkan adalah mengecek kebenarannya melalui di internet. Aku segera membrowsing melalui google, dan ternyata benar.Ini membuat hati dan pikiranku semakin kalut.Aku semakin hancur saat mengetahui jika saat ini Minho oppa sedang kritis. 


Krystal POV 

Aku tidak sanggup melihat bagaimana keadaan Minho opa saat ini. Ia sahabat Onew oppa, dan itu artinya, ia juga sahabatku. Sejak kepergian Sulli, hidup Minho menjadi sangat tidak teratur. Ia selalu murung ,selalu uring-uringan, pokoknya ia menjadi seperti tak semangat lagi menjalani hidupnya.Dan tiga hari yang lalu, kejadian naas itu terjadi, di persimpangan jalan, saat ia sedang menyetir sendirian, padahal ia sendiri tahu jika kemampuannya menyetir sangat payah, tetapi ia tetap saja nekat. Mobilnya bertabrakan dengan sebuah truk yang sedang mengebut. Dan disinilah ia sekarang. Terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Keadaanya kritis. Hampir seluruh bagian tubuhnya dibebat oleh perban putih. Ia lebih terlihat seperti Mummy saat ini. Aku berjalan menuju ruang tunggu rumah sakit, aku berpikir untuk duduk disana saja.Mataku menelusuri isi seluruh ruang tunggu yang didominasi warna hijau ini… Tunggu dulu… Aku melihat sosok wanita yang sangat kukenali sedang berbicara dengan suster. Senyumku mengembang secara otomatis. Itu Sulli!!!“Sulli!!!” kataku sambil melambaikan sebelah tanganku kearahnya.Ia berlari kearahku. Begitu tiba dihadapanku, ia langsung memelukku dan menangis. Menangis sejadi-jadinya. Aku tidak pernah meliihat Sulli sehancur ini sebelumnya.

Sulli POV 

Setelah tiba di Korea, aku segera bergegas ke rumah sakit tempat Minho oppa dirawat.“Minho oppa dimana, Krys?” tanyaku pada Krystal yang baru saja kutemui sambil terus terisak dalam tangisanku.Krystal menarik lenganku, lalu Krystal membawaku berlari menyusuri lorong panjang dan berbelok ke kiri diujung lorong, kami berhenti didepan pintu ruang rawat bernomor 293.
Oew oppa dan Jonghyun oppa sedang duduk dikursi yang ada didepan ruang rawat. Mereka sempat terkejut saat melihat kedatanganku, tetapi mereka akhirnya hanya mengatakan “Senang bertemu denganmu, Baby Ssul.”Mereka masih sama seperti dulu. Memanggilku dengan sebutan Baby Ssul.“Temui dia didalam, ia belum juga sadar sejak 3 hari yang lalu.” Ujar Jonghyun.Tanganku merasakan dingin saat menyentuh kenop pintu ruangan bernomor 293 tersebut. Dengan sekuat tenaga, aku berusaha untuk memutar kenop pintu tersebut dan melangkah masuk.Kini aku sudah didalam, aku masih menundukan kepalaku, terpaku didepan pintu.Aku masih belum sanggup melihat Minho oppa, aku berpikir untuk keluar lagi. Tapi aku datang sejauh ini memang untuk melihatnya, kan? Jadi, aku berusaha mengangkat kepalaku. Hatiku benar-benar hancur menjadi ratusan bahkan ribuan keping saat melihat bagaimana keadaan Minho oppa saat ini.

Air mataku tak dapat kutahan lagi. Aku berjalan menghampiri ranjang tempat Minho oppa berbaring, sambil berusaha mencari pegangan agar tetap kuat berdiri, aku memperhatikan Minho oppa dari bagian bawah tubuhnya hingga bagian atas tubuhnya. Kakinya digips, kepalanya diperban, tubuhnya pun penuh perban.Aku duduk di kursi yang ada di sebelah ranjang Minho oppa.“Mianhae oppa, ini semua salahku, aku terlalu bodoh meninggalkanmu, aku memang bodoh, aku ingin bertukar posisi denganmu oppa, aku ingin bertanggung jawab atas segalanya.” Aku menangis sejadi-jadinya. Aku tak peduli dengan lengan mantel ku yang basah karena kugunakan untuk mengelap air mataku terus menerus.“Bertahanlah oppa, aku yakin kau kuat, dan… jika kau bisa mendengar suaraku, tolong aku, tolong buka matamu, tolong supaya aku bisa memperbaiki segalanya.”Ujarku, namun Minho tetap tak bergeming dan tidak juga membuka matanya.

Suasana diruangan ini kemudian menjadi hening. Hanya suara alat pendeteksi detak jantung Minho yang terus berbunyi secara teratur.Aku merebahkan kepalaku di sisi ranjang Minho oppa, lalu memejamkan kedua mataku sambil terus berdoa agar Minho oppa cepat membuka matanya.“Senang bertemu denganmu, lovely baby ssul.” Suara berat yang sangat kurindukan itu membuat ku tersadar. Minho oppa sudah sadar, dan ia tersenyum di sela-sela lilitan perbannya.“Jeongmal bogoshipo chagiya.” katanya lagi.Aku masih belum bisa menemukan suaraku. Aku terus menangis.“Kau masih mau duduk termenung disitu dan menangis, atau kau mau menolongku untuk memanggilkan dokter untukku?” kata Minho oppa dengan nada bercanda. Ia masih Minho yang dulu. Minho oppa yang dulu adalah milikku.Aku tersenyum dan segera berlari keluar untuk memanggil dokter. Onew, Jonghyun dan Krystal secara refleks, menyerbu masuk kedalam ruangan saat mendengar Minho oppa sudah sadar. Beberapa waktu kemudian, dokter dan tiga orang suster datang lalu memeriksa keadaan Minho. 

Author’s POV 

Sudah satu bulan semenjak Minho sadar. Sekarang ia masih dirawat dirumah sakit untuk masa pemulihan. Dan kini, waktunya untuk membuka perban yang selama ini menutupi tubuhnya. Sulli berdiri si sisi ranjang Minho.Minho terus menggenggam tangan Sulli.“Chagiya, kau tahu tidak, aku sebenarnya takut!!” kata Minho pada Sulli dengan tampangnya yang polos.Sulli tersenyum, “Everything’s gonna be okay oppa!” kata Sulli.Dokter mulai membuka satu persatu perban yang ada di tubuh Minho. 

Minho POV 

Semua perban yang menempel di tubuhku sudah dilepaskan oleh dokter.Tapi anehnya, mengapa aku tidak bisa merasakan kedua kaki ku.“Dokter, kenapa aku tidak bisa merasakan kedua kaki ku?” tanyaku akhirnya pada Dokter Siwon, dokter yang menanganiku selama ini.Dokter Siwon menaikkan sebelah alisnya, lalu mencubit kedua kaki ku.Aku menggeleng, aku tidak merasakan apapun.Dokter Siwon, mengulanginya lagi. Tetapi, tetap sama. Aku tak dapat merasakan apapun.“Bisa keluar sebentar, Nona? Aku ingin memeriksanya.” Pinta Dokter Siwon pada Sulli.Kini Sulli telah kembali kedalam pelukanku, ia kembali menjadi kekasihku..Sulli melepaskan genggaman tangannya denganku, lalu tersenyum kearahku. Senyum yang menjadi alasanku untuk tetap hidup. 

Sulli POV 

Dokter Siwon meminta ku untuk keluar ruangan, aku menurutinya. Dari awal, aku sudah merasakan sesuatu yang buruk terjadi pada Minho oppa, saat ia mengatakan bahwa ia tidak dapat merasakan kedua kakinya.Aku hanya bisa menunggu dan pasrah. Kemudian, aku mengirim sms kepada member SHINee yang lain, juga Krystal dan Luna. meminta mereka datang kesini.Beberapa waktu kemudian, Iphone ku bergetar, tanda ada balasan sms datang. Itu dari mereka.“Kami dalamperjalanan ssul.” Begitu kata mereka.Dua puluh menit kemudian, Dokter Siwon keluar dari ruangan, wajahnya terlihat lesu, ia menatapku. Seperti terlintas kekecewaan di kedua bola mata lelaki separuh baya ini.“Minho lumpuh” katanya singkat.“Mwo!!?” aku benar-benar sangat terkejut.“Ini tidak diketahui sebelumnya” lanjut Dokter Siwon.Aku segera menerobos masuk kedalam ruangan, tidak peduli dengan salah satu suster yang hampir tertabrak pintu.Aku melihat Minho oppa sedang menundukkan kepalanya.“Oppa, kau tidak apa apa?” kataku, pelan.Ia menoleh kearahku, matanya basah, begitu juga dengan pipinya, ia menangis. Dan ini pertama kalinya kulihat ia menangis.“Aku lumpuh, Chagi!” dari caranya berbicara, aku tahu perasaannya saat ini sangat kalut.“That’s okay, Oppa.” Kataku sambil memeluk Zayn.Aku mendengar suara derap langkah kaki beberapa orang yang sedang berlari di lorong. Sedetik kemudian, Onew, Key, Jonghyun, Taemin, Luna, Krystal sudah berebut masuk kedalam ruangan . Aku melepaskan pelukan ku pada Minho oppa.“Hyung, kau tak apa? Apa yang terjadi padamu?” tanya Taemin.Minho tidak menjawab.“Sulli, semuanya baik-baik sajakan?” tanya Jonghyun oppa padaku.Aku tetap diam dan tak bergeming.“Ada sesuatu yang bisa kami lakukan untuk kalian?” tanya Luna hati-hati.“Bisakah kalian keluar? Aku hanya ingin sendiri.” Kami semua menoleh kearah Minho oppa yang berbicara dengan suara pelan dan lirih.“Tapi…” tukas Key.“Aku bilang, tinggalkan aku!!!” kali ini Minho berteriak.Kami semua terperanjat. Lalu melangkah gontai keluar ruangan. 

Onew POV 

Kami semua masih belum percaya dengan apa yang terjadi. Kedua kaki Minho mengalami kelumpuhan. Aku jadi tidak tega melihatnya. Saat ini kami semua sedang menangis. Menangisi nasib teman kami yang kehilangan kedua kakinya.“Minho akan baik-baik saja kan oppa?” ujar Krystal sambil memegang tanganku.Aku tersenyum “Iya, Chagi” Lalu, aku mencium kening dan kedua pipinya.Sulli terlihat sangat hancur saat ini. Ia yang menangis paling keras. Minho juga masih ingin sendirian di dalam kamarnya. Kami tahu sekarang ia juga sedang menangis. Tapi kami juga tahu, selama ada Sulli di sisi Minho, Minho akan kembali seperti dulu lagi. Mungkin tidak dengan kedua kakinya. Tetapi di sisi keceriaannya. 

Author’s POV 

Sulli mencoba mengetuk pintu kamar rawat Minho, sambil membawa nampan makanan untuk Minho. Sejak kemarin, Minho tidak mau makan.“Kalau itu Sulli, cepatlah masuk, tapi kalau bukan, jangan coba-coba.” Suara Minho terdengar dari dalam. Sulli tersenyum, lalu mendorong pintu kamar dengan kakinya, ia berusaha menyeimbangkan tubuhnya agar ia tidak menumpahkan seluruh isi nampan.“Tampaknya kau kesulitan, tapi mianhae, aku tidak bisa membantumu, kau kan tahu kaki ku lumpuh.” Nada bicara Minho terdengar seperti merendahkan dirinya sendiri.“Jangan banyak bicara, dan lain kali jaga ucapanmu, Oppa!” Sulli menjintak kepala Minho dengan jari telunjuknya. Minho pun cemberut.“Cepat habiskan makananmu!” perintah Sulli.“Aniyo, kau galak sekali” kata Minho.Sulli tersenyum. Hari ini Minho sudah jauh lebih baik. Ia mulai bisa menerima keadaannya. Ia juga tidak sehancur kemarin. Sulli sangat merasa bahagia.“Anak bodoh, cepat makan!!” Sulli bertolak pinggang sambil melotot.

Minho tertawa melihatnya.“Kau tahu tidak, kau terlihat sangat lucu kalau seperti itu” ujarnya.“Cepat habiskan makananmu, Oppa!” tukas SulliMinho mengambil nampan makanan dari tangan Sulli.
“Kalau dipikir-pikir, aku lapar juga” gurau Minho.Sulli tertawa. ‘Gomawo ,Tuhan. Ia tetap Minho oppa yang dulu.’ Katanya dalam hati. 

Key POV 

Aku senang bisa melihat Minho kembali tersenyum lagi. Mungkin kami semua harus berterima kasih kepada Sulli. Tanpanya, entah apa jadinya Minho saat ini.“Gomawo, Sulli.” Kataku pada Sulli saat ia keluar dari ruangan Minho sambil membawa nampan bekas makanan Minho.“Kami tidak tahu, apa jadinya Minho tanpamu, Ssul..” tegas ku.“Itu sudah menjadi tugasku, Oppa” tukas Sulli sembari tersenyum.“Our Lovely Baby Ssul” gurauku sambil mengacak-ngacak rambut hitamnya.“Hentikan, Oppa!!” ujar Sulli sambil merapihkan rambutnya menggunakan jari tangannya. 

Author’s POV 

Selesai makan, Minho, Sulli, Onew, Jonghyun, Key, Taemin, Luna dan Krystal bersantai di taman rumah sakit.Jonghyun dengan Luna asyik bermain air mancur, Onew dan Krystal asyik bermain kejar-kejaran, Key sedang mengajak bicara burung parkit peliharaan rumah sakit, dan Taemin yang sedang duduk di bangku taman sambil memakan cemilannya itu.Sulli dan Minho, sedang berjalan-jalan disekitar taman. Sulli dengan senang hati mendorong kursi roda untuk Minho. Mereka berhenti di salah satu kursi panjang yang ada di sudut taman.“Waeyo Chagiya?” tanya Minho. Sulli mengalihkan pandangannya kearah Minho.“Kenapa apanya Oppa?” tanyanya lembut.“Kenapa kau mencintaiku?” kata Minho.“Apakah aku harus mempunyai alasan untuk itu?” ujar Sulli.“Meskipun kedua kaki ku lumpuh?” tanya Minho lagi.“Yaa phabo! Aku itu mencintaimu, bukan kakimu!!” tukas Sulli, sambil mencubit pipi Minho“Kau boleh mencari laki-laki yang lain chagi, kalau kau mau.” Gurau Minho.“Jangan bicara sembarangan, Oppa!! Ditinggal sebentar saja kau sudah sampai kecelakaan, apalagi ditinggal untuk laki-laki lain.” Ucap Sulli asal.“Mungkin aku akan mati.” Tukas Minho.Hening.“Yaa, bagaimana kalau aku yang mencari wanita lain?” ujar Minho.“Coba saja kalau kau berani.” Kata Sulli sambil menaikkan sebelah alisnya dan melipat kedua tangannya di depan dada.“Tidak jadi ah, aku khawatir kau tidak sanggup move on.” Ledek Minho. “Phaboyaa!!” Ujar Sulli sambil mengacak-ngacak rambut Minho.

Minho memperhatikan Sulli.“Ngomong-ngomong, hari ini kau terlihat sangat cantik dengan lace dress biru itu.” Ujar Minho dengan ekspresi datarnya.“Ini warna hijau phabo!!” tukas Sulli cepat.Mereka berpandangan. Lama. Sulli berlutut didepan Minho supaya dapat menyamakan tingginya dengan kursi roda Minho. Minho mencondongkan tubuhnya, mencoba untuk mencium bibir Sulli. Namun Sulli menghindar.“Tidak kena.” Ledek Sulli sambil menjulurkan lidahnya.“Kau jahat Chagi.” Gurau Minho.Minho berpura-pura marah, hal ini membuat Sulli tersenyum.Sulli meraih kepala Minho dengan kedua tangannya, lalu menempelkan bibirnya ke bibir Minho. Yap. Mereka berciuman. 

Kini mereka terlarut dalam emosi mereka masing-masing.Hingga akhirnya…“Hey!!!” teriak Taemin. Membuat Minho dan Sulli terpaksa menghentikan ciumannya dan menoleh kearah Taemin.Yang lain juga ikut menoleh kearah Taemin.Taemin bangkit dari kursinya.“Ada yang tahu dimana restoran di sekitar sini?” tanya Taemin sambil mengusap-usap perutnya. Seperti mengisyaratkan pada cacing-cacing dalam perutnya untuk bersabar sebentar.“Aku lapar!!!” tambah Taemin masih sambil berteriak. Kami semua tertawa. Padahal, kami semua juga tahu ia baru saja menghabiskan dua bungkus cemilan kesukaan nya.Sulli menggelengkan kepalanya pelan.“Kau tidak bercandakan?ll!!!” katanya.“Aku serius.” Kata Taemin kencang dan datar.Semuanya berhenti tertawa.Lalu hening.

























----The End----

Tidak ada komentar:

Posting Komentar