Title : My Whole Life as Mrs. Choi (OneShoot)
Author : @HerdaOfficial or Nur Herda (Choi Ha Jung)
Enjoy and Happy Reading~
Sulli berada di rumah sakit, seorang diri berusaha berjuang melawan sakitnya raga-nya yang kini tengah mengandung anak pertamanya dan Minho. Tapi saat ini Minho tidak ada disampingnya. Malam sebelumnya, Sulli masih berada di rumah, tengah merajut tiap-tiap helai benang wool sampai terbentuk sebuah topi kecil, untuk cikal bakal calon anak pertama mereka. Tiba-tiba telepon di rumahnya berdering. Sulli yang sudah hampir setahun lama tidak bertemu dengan Minho pun berharap jika telepon yang berdering itu adalah telepon dari Minho"Well hello, sweetheart... It's been a long time!" Yeah, Sulli mengenali suara itu, suara dari orang yang dia cintai. Suara dari orang yang demi apa pun Sulli pertaruhkan untuk dia, termasuk fakta bahwa Sulli rela untuk menikah secara private, hanya Minho dan SHINee member yang tahu dan menghadiri pernikahan merekaPengucapan janji setia pun dilakukan secara sederhana, namun tak akan pernah Sulli lupakan dalam hidupnya. Sulli memakai gaun pengantin putih sederhana, dengan ornamen renda yang tidak terlalu meriah tetapi terlihat indah. Sedangkan Minho mengenakan tuxedo hitam dengan sematan bunga mawar putih, bunga yang Sulli suka.
Sebulan setelah pernikahan Mereka, saat Mereka melakukan dinner romantis, Minho memberikan kabar buruk sekaligus bahagia. Kabar buruknya adalah, Minho harus mengikuti tour bersama SHINee. Kabar baiknya? Mungkin tour tersebut merupakan langkah awal karir SHINee. Sulli memeluk Minho, ikut merasakan bahagia yang terpancar di wajah Minho. Padahal kamu tahu, malam itu juga kamu ingin mengabari Minho soal kehamilan anak pertama mereka.
Tapi karena melihat raut wajah Minho yang tiba-tiba cemas karena takut meninggalkan Sulli, Sulli hanya tersenyum tipis dan tetap menyimpan rahasia itu.Kini, tepat sembilan bulan semenjak Minho mengikuti tour bersama grupnya SHINee. Usia kandungan pun sudah memasuk usia matang.
Hal terakhir yang Sulli inginkan adalah memberikan kehidupan bagi anak pertama mereka dengan kehadiran sang ayah. Tepat pagi hari, Sulli merasakan sakit yang luar biasa, saat itulah Sulli yakin... hampir tiba saatnya. Dengan langkah kecil, Sulli memegangi telepon genggamnya, menekan dengan gelisah nomor telepon Minho."Hallo? Is that you, sweetheart?" suara yang Sulli rindukan. Sambil menahan sakit, kamu tersenyum kecil dan mengatakan, "Oppa, kurasa aku akan melahirkan..."Tidak ada jawaban dari Minho.
Seolah sunyi menerpa di seberang sana. Kau pun mulai cemas, takut membayangkan ekspresi wajah Minho."Kau dimana sekarang? Apakah ada seseorang bersamamu?""Aku di rumah, oppa. Sendiri""Alright, aku akan menyuruh Victoria noona atau Luna kesana untuk menemanimu. Pastikan keadaanmu baik-baik saja! Kalau mereka sudah sampai dan kau merasa akan terjadi sesuatu, langsung hubungi rumah sakit! Kau mengerti?""Aku mengerti""Hei, chagiya..""Ya, Oppa?""I love you.. Big time"Saat itu juga air mata Sulli berlinang. Ia mengingat kembali masa-masa perjuangannya mendapat hati Minho. Berawal dari senyuman hangat saat ia mengikuti acara meet n greet SHINee beberapa waktu lalu. Saat itu Minho melihat pembawaanmu yang tenang dan susah baginya untuk mengakui bahwa ia mencintaimu pada pandangan pertama..."Don't cry please, babe.. I'll be at your side. Always and forever. I promise!""Aku tahu oppa, aku percaya akan hal itu. Dan ya, aku juga sangat mencintaimu.."Setelah menelepon Minho, Sulli kembali merasa tenang. Sesaat setelah menelepon, Victoria dan Luna mengetuk pintu rumahnya. Disitulah, semuanya menjadi putih.
*beberapa hari selanjutnya*
Dokter mengatakan pada Sulli bahwa kandungannya baik-baik saja. Namun stamina-nya yang berkurang dan bawaan tekanan akibat mengurus kehamilannya seorang diri, membuatnya kelelahan sehingga tak sadarkan diri. Dokter juga mengatakan bahwa proses persalinan dapat dilakukan setelah ia siap, karena usia kandungannya sudah dikatakan cukup matang untuk proses persalinan.Tak lama setelah Sulli sadar, dengan kondisinya yang belum cukup pulih, tiba-tiba ia merasakan sebuah dorongan kuat dan menyakitkan. Kelahiran anak pertama mereka. Dokter dan para suster pun dengan sigap menyiapkan segala kebutuhan untuk proses persalinan. Salah satu suster sudah siap dengan sarung tangannya, serta masker pelindungnya. Para suster pun menyemangatinya dengan gelisah, terus menerus menyuruhnya mendorong tekanan yang terasa menyakitkan. Tiba-tiba Sulli merasakan genggaman hangat di tangan kanannya, disusul dengan belaian lembut dikepalanya. Genggaman tangan yang sangat ia rindukan."C'mon, sweetheart! You can make it!" suara yang Sulli rindukan pun berhembus bergema pelan di telinganya. Sulli seolah mendapatkan kekuatan untuk melawan rasa sakitnya. Hingga akhirnya ia mendengar tangisan kecil seorang bayi laki-laki. Tangisan kecil bagai malaikat yang mampu membuatnya tersenyum di tengah rasa sakit. Minho, dengan lembutnya membelai kepala malaikat kecilnya yang baru saja lahir ke dunia ini. Dengan tatapan puas, Sulli memejamkan matanya. Berharap semua ini tidak cepat terjadi, karena yang ingin Sulli rasakan adalah sebuah proses..
*Beberapa tahun kemudian*
Sulli memasak pancake, dengan sirup mapple yang tidak begitu manis. Di depannya tengah duduk anak lelaki berusia tiga tahun, bermain dengan warna-warni crayon bersama sang ayah tercinta. Sejenak Sulli memperhatikan, matanya yang berwarna coklat diturunkan oleh ayahanda tercinta dan rambut agak coklat mengkilap yang diturunkan darinya. Minho, suami-nya yang sekarang tengah bermain dengan anak pertama mereka tiba-tiba menghampiri Sulli, memeluknya dari belakang dan mencium tengkuknya lembut..."My life is completely right with you. You're my happiness, my sunshine.. I love you, sweetheart..."Suaranya yang lembut dan maskulin membuat Sulli tidak bergeming, sehingga Minho membalikan badannya, lalu mencium keningnya pelan dan kembali memeluknya hangat.
"I love you..."
"I love you too"
The End ~~~~
Mian typo(s), bad words dan gaje
Enjoy and Happy Reading~
Sulli berada di rumah sakit, seorang diri berusaha berjuang melawan sakitnya raga-nya yang kini tengah mengandung anak pertamanya dan Minho. Tapi saat ini Minho tidak ada disampingnya. Malam sebelumnya, Sulli masih berada di rumah, tengah merajut tiap-tiap helai benang wool sampai terbentuk sebuah topi kecil, untuk cikal bakal calon anak pertama mereka. Tiba-tiba telepon di rumahnya berdering. Sulli yang sudah hampir setahun lama tidak bertemu dengan Minho pun berharap jika telepon yang berdering itu adalah telepon dari Minho"Well hello, sweetheart... It's been a long time!" Yeah, Sulli mengenali suara itu, suara dari orang yang dia cintai. Suara dari orang yang demi apa pun Sulli pertaruhkan untuk dia, termasuk fakta bahwa Sulli rela untuk menikah secara private, hanya Minho dan SHINee member yang tahu dan menghadiri pernikahan merekaPengucapan janji setia pun dilakukan secara sederhana, namun tak akan pernah Sulli lupakan dalam hidupnya. Sulli memakai gaun pengantin putih sederhana, dengan ornamen renda yang tidak terlalu meriah tetapi terlihat indah. Sedangkan Minho mengenakan tuxedo hitam dengan sematan bunga mawar putih, bunga yang Sulli suka.
Sebulan setelah pernikahan Mereka, saat Mereka melakukan dinner romantis, Minho memberikan kabar buruk sekaligus bahagia. Kabar buruknya adalah, Minho harus mengikuti tour bersama SHINee. Kabar baiknya? Mungkin tour tersebut merupakan langkah awal karir SHINee. Sulli memeluk Minho, ikut merasakan bahagia yang terpancar di wajah Minho. Padahal kamu tahu, malam itu juga kamu ingin mengabari Minho soal kehamilan anak pertama mereka.
Tapi karena melihat raut wajah Minho yang tiba-tiba cemas karena takut meninggalkan Sulli, Sulli hanya tersenyum tipis dan tetap menyimpan rahasia itu.Kini, tepat sembilan bulan semenjak Minho mengikuti tour bersama grupnya SHINee. Usia kandungan pun sudah memasuk usia matang.
Hal terakhir yang Sulli inginkan adalah memberikan kehidupan bagi anak pertama mereka dengan kehadiran sang ayah. Tepat pagi hari, Sulli merasakan sakit yang luar biasa, saat itulah Sulli yakin... hampir tiba saatnya. Dengan langkah kecil, Sulli memegangi telepon genggamnya, menekan dengan gelisah nomor telepon Minho."Hallo? Is that you, sweetheart?" suara yang Sulli rindukan. Sambil menahan sakit, kamu tersenyum kecil dan mengatakan, "Oppa, kurasa aku akan melahirkan..."Tidak ada jawaban dari Minho.
Seolah sunyi menerpa di seberang sana. Kau pun mulai cemas, takut membayangkan ekspresi wajah Minho."Kau dimana sekarang? Apakah ada seseorang bersamamu?""Aku di rumah, oppa. Sendiri""Alright, aku akan menyuruh Victoria noona atau Luna kesana untuk menemanimu. Pastikan keadaanmu baik-baik saja! Kalau mereka sudah sampai dan kau merasa akan terjadi sesuatu, langsung hubungi rumah sakit! Kau mengerti?""Aku mengerti""Hei, chagiya..""Ya, Oppa?""I love you.. Big time"Saat itu juga air mata Sulli berlinang. Ia mengingat kembali masa-masa perjuangannya mendapat hati Minho. Berawal dari senyuman hangat saat ia mengikuti acara meet n greet SHINee beberapa waktu lalu. Saat itu Minho melihat pembawaanmu yang tenang dan susah baginya untuk mengakui bahwa ia mencintaimu pada pandangan pertama..."Don't cry please, babe.. I'll be at your side. Always and forever. I promise!""Aku tahu oppa, aku percaya akan hal itu. Dan ya, aku juga sangat mencintaimu.."Setelah menelepon Minho, Sulli kembali merasa tenang. Sesaat setelah menelepon, Victoria dan Luna mengetuk pintu rumahnya. Disitulah, semuanya menjadi putih.
*beberapa hari selanjutnya*
Dokter mengatakan pada Sulli bahwa kandungannya baik-baik saja. Namun stamina-nya yang berkurang dan bawaan tekanan akibat mengurus kehamilannya seorang diri, membuatnya kelelahan sehingga tak sadarkan diri. Dokter juga mengatakan bahwa proses persalinan dapat dilakukan setelah ia siap, karena usia kandungannya sudah dikatakan cukup matang untuk proses persalinan.Tak lama setelah Sulli sadar, dengan kondisinya yang belum cukup pulih, tiba-tiba ia merasakan sebuah dorongan kuat dan menyakitkan. Kelahiran anak pertama mereka. Dokter dan para suster pun dengan sigap menyiapkan segala kebutuhan untuk proses persalinan. Salah satu suster sudah siap dengan sarung tangannya, serta masker pelindungnya. Para suster pun menyemangatinya dengan gelisah, terus menerus menyuruhnya mendorong tekanan yang terasa menyakitkan. Tiba-tiba Sulli merasakan genggaman hangat di tangan kanannya, disusul dengan belaian lembut dikepalanya. Genggaman tangan yang sangat ia rindukan."C'mon, sweetheart! You can make it!" suara yang Sulli rindukan pun berhembus bergema pelan di telinganya. Sulli seolah mendapatkan kekuatan untuk melawan rasa sakitnya. Hingga akhirnya ia mendengar tangisan kecil seorang bayi laki-laki. Tangisan kecil bagai malaikat yang mampu membuatnya tersenyum di tengah rasa sakit. Minho, dengan lembutnya membelai kepala malaikat kecilnya yang baru saja lahir ke dunia ini. Dengan tatapan puas, Sulli memejamkan matanya. Berharap semua ini tidak cepat terjadi, karena yang ingin Sulli rasakan adalah sebuah proses..
*Beberapa tahun kemudian*
Sulli memasak pancake, dengan sirup mapple yang tidak begitu manis. Di depannya tengah duduk anak lelaki berusia tiga tahun, bermain dengan warna-warni crayon bersama sang ayah tercinta. Sejenak Sulli memperhatikan, matanya yang berwarna coklat diturunkan oleh ayahanda tercinta dan rambut agak coklat mengkilap yang diturunkan darinya. Minho, suami-nya yang sekarang tengah bermain dengan anak pertama mereka tiba-tiba menghampiri Sulli, memeluknya dari belakang dan mencium tengkuknya lembut..."My life is completely right with you. You're my happiness, my sunshine.. I love you, sweetheart..."Suaranya yang lembut dan maskulin membuat Sulli tidak bergeming, sehingga Minho membalikan badannya, lalu mencium keningnya pelan dan kembali memeluknya hangat.
"I love you..."
"I love you too"
The End ~~~~
Mian typo(s), bad words dan gaje
Tidak ada komentar:
Posting Komentar