Minggu, 27 April 2014

First Love last chapter

FIRST LOVE (last chapter)















Gak usah banyak basa-basi deh ya. HAPPY READING!!! 
Mian typo(s) berkeliaran dimana-mana, bad words juga tolong dimaafkan 
**

"Kita harus mengatakan yang sebenarnya, Minho!" desah Ha Jung. Minho berbaring di sebelah Ha Jung, memandang ke langit sambil tersenyum semu.
"Tidak perlu. Aku bahagia melihatnya seperti itu. Biarlah ini menjadi rahasia kita"
"Tapi cepat atau lambat dia akan mengetahuinya"
Minho hanya tersenyum kemudian melihat jam di pergelangan tangannya.
"Sudah malam. Lebih baik kau ku antar pulang" Minho bangkit berdiri. Kedua tangan dimasukkan kedalam jas putihnya.
"Tidak perlu, aku bisa pulang sendiri. Lagi pula jika kau mengantarku, pasien-pasienmu bagaimana?" sergah Ha Jung yang kini berdiri disamping Minho. Minho terkekeh. Tangan jahilnya mengacak-acak rambut Ha Jung.
"Ini sudah waktunya untuk pulang, bodoh!"
Ha Jung menyeringai, wajahnya memerah walaupun di bawah langit gelap seperti itu tidak terlihat jelas.
"Baiklah. Bawa aku pergi dari taman ini haha"
"With my pleasure ":

Baru saja mereka akan melangkah, tiba-tiba ponsel Minho berdering. Minho mengambil ponselnya, memandang Ha Jung sebentar lalu mengangkat telfonnya.
"Annyeonghaseyo..Belum..Sekarang? UGD? Baiklah"
"Ada apa?" tanya Ha Jung ketika Minho mengakhiri sambungan telfonnya.
"Mianhae, Ha Jung. Tiba-tiba saja ada pasien yang harus di tangani"
"Oh. Ya sudah aku tak apa"
"Maaf sekali. Apa perlu aku panggilkan taxi?"
"Tidak.. Tidak perlu"
"Kau yakin?"
"Seratus persen "
"Baiklah. Aku harus segera ke UGD. Kau-"
"Tak apa. Ayo cepat! Jangan biarkan pasienmu menunggu!"
"Em okay. Gomawo Ha Jung" Minho memeluk Ha Jung sebentar lalu dengan setengah berlari menuju UGD.
***

"Dokter Minho!" panggil seorang dokter yang sepertinya sedang menunggu Minho. Minho menghampiri dokter itu lalu mereka masuk ke dalam UGD.
"Ada apa dengan pasien ini, dokter Siwon?"
"Pasien ini mengidap kanker otak. Lebih baik dokter melihat pasiennya dulu" jelas dokter Siwon. Minho mengangguk lalu menghampiri seorang pasien yang sedang dikelilingi suster.
"Permisi, suster" ucap Minho kepada salah satu suster yang seang berdiri disamping pasien.
Diam mematung. Speechless. Itu reaksi Minho ketika melihat pasiennya.
"Sulli..." gumamnya.
Semua orang yang ada didalam ruangan saling bertatapan. Bingung dengan Minho yang tiba-tiba seperti itu ketika melihat pasiennya. Siwon menghampiri Minho yang terdiam.
"Dokter Minho. Kau baik-baik saja?"
Minho menatap Siwon sayu. "Lakukan tindakan, sekarang!" ucap Minho tegas.
Siwon yang terlihat kebingungan akhirnya menturuti perintah Minho. Dengan cepat dan cekatan mereka menangani Sulli.
"Dimana keluarga pasien ini?" tanya Minho ketika selesai dengan tugasnya.
"Mereka menunggu di ruang tunggu" jawab salah satu suster. Minho mengangguk lalu keluar untuk menemui keluarga Sulli.

Di ruang tunggu terlihat beberapa orang yang sudah tidak asing lagi bagi Minho. Tapi satu yang menjadi pusat perhatiannya. Seorang lelaki yang juga duduk disana bersama keluarga Sulli.
"Siapa dia?" pikir Louis. Tapi itu sama sekali tidak penting. Minho menghampiri keluarga Sulli yang terlihat cemas ketika melihat Minho datang.
"Selamat malam tuan nyonya" tegur Minho ramah.
"Minho bagaimana keadaan Sulli?" tanya ibu sulli cemas. Minho melirik lelaki yang tadi sempat ia pertanyakan. Lelaki itu terlihat cemas. Raut wajahnya terlihat seperti meminta jawaban Minho.
"Sulli.... Kanker yang di deritanya sudah....stadium akhir" ucap Minho kemudian. Nada bicaranya terdengar sedih. Bagaimana tidak? Selama ini ia sama sekali tidak tahu bahwa orang yang sangat ia cintai mengidap penyakit mematikan seperti itu? Dan sekarang, ia mengetahuinya disaat kondisi Sulli sudah sangat parah. Mungkin saja sisa hidupnya hanya tinggal beberapa bulan lagi, atau beberapa hari lagi? Atau bahkan tinggal menghitung jam? Pikiran yang tidak sehat, memang. Tapi bagaimana jika itu memang benar terjadi? Tidak! Itu tidak akan pernah terjadi!
***

Minho menatap lekat-lekat Sulli yang terbaring lemah. Matanya sama sekali tak berpaling dari Sulli, walaupun itu hanya sedetik.
Sudah dua hari Sulli koma. Yang Minho bisa lakukan hanya menatapnya, memandangnya, merutuk dirinya sendiri. Meninggalkan Sulli di hari yang membuatnya sangat bahagia, yaitu hari dimana tepat satu bulan mereka berpacaran. Dan dengan mudahnya Minho membuat Sulli sakit hati. Memperkenalkan gadis yang ia sebut sebagai kekasihnya -Ha Jung- yang pada kenyataannya bukan. Pada kenyataannya Ha Jung hanya sepupunya. Membuat Sulli benar-benar menghapus namanya dan menemukan pengganti Minho. Menemukan orang yang mungkin lebih bisa membuat Sulli tersenyum tanpa harus mengeluarkan air mata. Orang yang jauh lebih mencintai Sulli dan tidak akan pernah menyia-nyiakan gadis itu. Orang yang selalu ada disaat Sulli membutuhkannya. Orang yang selalu menghapus air mata Sulli disaat air mata yang terlalu berharga keluar dari mata indahnya. Dan yang pasti orang itu jauh lebih baik dari dirinya.

Minho tersadar dari lamunannya ketika seseorang menepuk bahunya. Minho menengok, ternyata itu lelaki asing yang duduk bersama keluarga Sulli malam itu. Lelaki itu tersenyum semu. Matanya kemudian beralih kepada Sulli.
"Aku Taemin" ucap Taemin to the point.
"Taemin? Kekasih Sulli?" tanya Minho datar.
"Yap. Dan sekarang aku tahu. Kau..Minho. Choi Minho yang selalu Sulli ceritakan di dalam buku kecilnya"
Minho mengernyit. Bingung dengan ucapan Taemin.
"Buku kecil?"
"Ya. Buku kecil ini.." Taemin menunjukan sebuah buku yang ukurannya lebih kecil ari buku tulis. Diary? Tidak. Buku itu tipis, tidak tebal. Covernya pun hanya berwarna coklat polos.
"Kau baca saja isinya" ujar Taemin seraya memberikan buku itu kepada Minho. Minho menerimanya lalu duduk di sofa yang terletak di dekat jendela.

Pertama kali ia membuka halaman pertama. Disana tertulis namanya dengan jelas "Choi Minho" membuat bibirnya terangkat menghasilkan seulas senyum. Kemudian ia membuka halaman berikutnya.

September 18th, 2013.
Lembaran putih itu sedikit demi sedikit dipenuhi dengan warna. Tapi dengan mudahnya kau menghapus warna-warna itu dengan tinta hitam. Terimakasih atas semua yang telaj kau berikan untukku.
Love

Sakit hati. Sekarang Minho merasakan apa yang Sulli rasakan saat itu. Mungkin ia laki-laki yang paling jahat. Lelaki yang hanya bisa membuat orang yang dicintainya sakit hati.
Minho membuka halaman berikutnya dan seterusnya.

September 20th, 2013.
Melupakanmu bukan hal yang mudah bagiku. Begitu banyak kenangan yang menahanku untuk selalu mengingatmu. Tapi aku brusaha. Aku tak ingin merasa terpuruk seperti ini. Seperti yang dulu kau katakan. Jika kita tidak bisa berbahagia, maka biarkan orang yang kita cintai bahagia. I try..
Love

October 2nd, 2013.
Selamat Minho.. Semoga kau bahagia bersama kekasih barumu. Dan guess what! Sekarang aku telah mendapatkan penggantimu, Meskipun bayang-bayangmu masih saja menghantui. Tapi sedikit demi sedikit aku akan mencoba melupakanmu. Semoga kita bahagia dengan pasangan kita masing-masing.
Love

October 18th, 2013.
Happy 2nd anniversary Minho. Haha dan... Happy 1st failed. Semoga kita bahagia dengan pasangan masing-masing.
Love

November 2nd, 2013.
Happy anniversary Taemin..
Minho. Hari ini aku dan Taemin anniv. Do'akan kami agar bisa terus bersama. Disini aku selalu mendoakanmu.
Love

November 11th, 2013.
Minho.. Aku ingin sekali melihatmu bahagia. Aku ingin melihatmu menjadi seorang dokter, seperti cita-citamu. Dan suatu hari nanti, aku ingin kau menjadi dokterku. Dokter yang akan membebaskanku dari penyakit ini.
Love

November 18th, 2013.
Happy 3rd anniversary Minho.. Dan happy 2nd failed 
Love

December 8th, 2013.
Sekian lama aku memendam rasa rindu itu. Tapi akhirnya aku menyerah. Aku tak bisa membohongi diriku sendiri. Beberapa halaman aku menulis, berusaha tegar, berusaha bahagia. Tapi dibalik itu semua masih terbesit rasa rinduku. Di tengah malam, dibawah sinar bulan aku berharap kau datang menemuiku walau hanya untuk berkata 'I Miss You'. Aku merindukanmu Minho.. Aku merindukanmu.
Love

December 10th, 2013.
Tak ada seorang pun yang bisa menggantikan posisimu di hatiku. Aku tak butuh paras yang tampan. Aku tak butuh lelaki yang kaya. Aku tak butuh orang yang berhati malaikat. Yang aku butuhkan adalah orang yang bisa membuatku bahagia. Orang yang bisa membuatku tersenyum, menangis, kecewa. Orang yang selalu mengajarkanku arti cinta, hidup, pengorbanan. Orang yang bisa membuatku merasakan cinta. Orang yang bisa membuatku benar-benar jatuh cinta. Hanya ada satu orang itu...Choi Minho.
Love

December 25th, 2013.
Setelah sekian lama aku menunggu. Dan akhirnya hari ini aku bisa bertemu lagi denganmu. Aku snagat merindukanmu Minho-ku. I love you Minho..
Love

December 26th, 2013.
Sakit.. Kepalaku sakit. Aku tahu hidupku tak akan lama lagi. Tapi aku bahagia, karena disisa umurku aku bisa melihat cinta pertamaku lagi. Walaupun itu untuk terakhir kalinya.
Penyakit ini mungkin bisa membuat mataku tertutup untuk selamanya. Tapi tidak dengan cintaku. Seberapa parahpun penyakit yang ku derita, tak akan membuat cintaku untukmu mati.
Love

Pada lembar terakhir Minho meneteskan air mata. Sedih, kecewa, bahagia bercampur menjadi satu. Sulli yang sampai saat ini ia cintai ternyata tidak benar-benar melupakannya. Tapi ia juga benci dengan keadaan. Mengapa ia harus mengetahui semuanya disaat Sulli sedang sekarat? Kenapa selalu saja terlambat?!

Minho berjalan menghampiri Sulli. Tangannya menggenggam tangan Sulli.
"Kau bodoh, Ssul! Mengapa kau masih mencintai aku? Aku menyesal.. Ku mohon sadarlah! Aku marah padamu! Mengapa kau tak pernah bilang tentang penyakitmu? Mengapa harus menunggu kau seperti ini dulu baru aku mengetahuinya? Hah? Ku mohon sadarlah. Kau ingin aku menjadi doktermu, bukan? Ya. Mimpimu terwujud. Aku dokter Minho. Aku doktermu. Kau-"
Minho berhenti bicara ketika merasakan tangan Sulli bergerak. Setelah itu kepala Sulli ikut bergerak. Dan perlahan mata indahnya terbuka membuat Minho tak bisa berkata apa-apa. Dengan sigap Minho keluar memanggil suster untuk membantunya memeriksa Sulli. Sementara Taemin yang sedari tadi menyaksikan (?) Minho yang dengan puitisnya (?) bicara menghampiri Sulli dengan bahagia. Tak berapa lama kemudian Minho datang dengan dua orang suster. Sementara Minho memeriksa Sulli, Taemin menghubungi keluarga Sulli.

Tiga puluh menit kemudian keluarga Sulli datang. Sulli sudah mulai bisa bicara walaupun belum terlalu lancar karena selama dua hari tertidur pulas.
"Minho.. Ak..u ingin melihat matahari tenggelam" pinta Sulli. Minho melihat keluarga Sulli juga Taemin. Mereka mengangguk. Akhirnya dengan menggunakan kursi roda Sulli dan Minho pergi ke taman Rumah Sakit untuk melihat matahari terbenam.
"Sore yang penuh keajaiban" pikir Minho.

Minho mengambil bangku lalu duduk di sebelah Sulli. Beberapa saat mereka terdiam. Sementara Taemin, dan keluarga Sulli melihat mereka dari jauh.
"Aku sudah membaca buku kecilmu" ucap Minho memulai percakapan. Sulli menengok. "Buku kecil apa?"
"Ini" Minho memberikan buku kecil itu kepada Sulli.
"Oh. Kenapa kau memutuskanku saat itu?" tanya Sulli. Suasana terasa memanas.
"Waktu itu aku tidak enak badan. Ha Jung mengantarku ke Rumah Sakit sehari sebelum kelulusan dannnn hari jadi kita. Dokter yang memeriksaku bilang aku mengidap kanker. Saat itu aku benar-benar bingung. Aku sangat mencintaimu, tapi aku berpikir aku tidak pantas untukmu. Aku penyakitan. Akhirnya aku memutuskanmu dengan alasan memiliki pacar baru. Dan sebenarnya Ha Jung adalah sepupuku. Tapi setelah aku memutuskanmu dokter bilang aku sama sekali tidak mengidap kanker" jelas Minho panjang lebar.
"Apa? Sepupumu?"
"Iya. Dan.. Aku tidak mungkin melupakanmu begitu saja." Minho memegang tangan Sulli lalu meletakannya di dadanya, "Semua itu berawal dari sini, dan disini pula semua itu akan berakhir"
"Minho.." Sulli mulai berkaca-kaca.
Minho mengusap air mata Sulli yang mulai berjatuhan, "Ku mohon jangan menangis"
"Aku mengidap kanker.. Aku akan mati"
"Ssssttt.. Kau tidak boleh bicara seperti itu. Takdir manusia sudah di tentukan sejak dia di lahirkan. Tak ada seorang pun yang tahu kapan dia akan meninggal. Kau harus percaya bahwa keajaiban akan datang"
"Minho.. Aku bahagia pernah menjadi orang yang kau cintai. Keberadaan kamu membuat aku kuat melawan penyakitku."
Minho tersenyum manis, begitu pun Sulli.
"Minho.. Aku mengantuk. Boleh aku tidur disini?" Sulli menepuk bahu Minho.
"Dengan senang hati, princess" Sulli menyandar di bahu Minho. Sementara itu Minho bercerita panjang lebar tentang bagaimana perasaannya saat ia memutuskan Sulli hanya karena kabar yang tidak benar tentang penyakitnya. Bagaimana hari-harinya tanpa semangat Sulli. Dan bagaimana ia sampai bisa menjadi seorang dokter seperti sekarang.

Matahari sudah berubah warna menjadi jingga. Minho tersenyum lalu membangunkan Sulli.
"Ssul.. Sudah waktunya. Ini yang kau nantikan. Matahari terbenam. Ayo bangun.." ujar Minho. Tapi sepertinya Sulli masih tertidur sehingga tak mendengarnya bicara. Minho melirik Sulli, tangannya menyentuh bahu Sulli berusaha membangunkannya. Tapi seperti tak ada tenaga Sulli hampir saja terjatuh dari kursi roda saat Minho menjauhkannya dari bahunya.
"Ssul.." Minho memperhatikan wajah Sulli lekat-lekat. Wajahnya pucat. Bibirnya putih. Badannya dingin. Minho mengeluarkan ponselnya dari saku celana. Mendekatkan layarnya ke hidung Sulli. Setelah ia lihat layarnya masih sama seperti semula. Masih penasaran kini Minho memeriksa denyut nadinya.. Tetap sama seperti tadi. Tak berfungsi. Denyut nadinya tak berfungsi.
"Sulli.." Minho menatap Sulli sendu. Matanya merah kemudian air mata itu kembali jatuh. Minho memeluk tubuh Sulli sangat erat. Air matanya menetes ke wajah Sulli.
"Mengapa secepat ini? Kita baru saja menemukan serpihan kebahagiaan yang sempat hilang. Kenapa Sulli? Kau tak mencintaiku? Kau senang melihatku menangis? Kau tak sayang padaku? Mengapa kau pergi? Aku mencintaimu" Minho memeluk Sulli semakin erat. Untuk terakhir kalinya Minho menciumi Sulli. Dahi, mata, pipi dan terakhir ia mengecup bibir mungil Sulli.
"You'll be in my heart"
Minho memangku Sulli dari kursi roda dan membawanya ke ruangannya. Seakan tahu apa yang terjadi. Taemin dan keluarga Sulli menangis tak hentinya.


THE END

Tidak ada komentar:

Posting Komentar